Wawancara Khusus

Adolf Heuken soal Rumah VOC Cimanggis dan Abainya Pemerintah

Dias Saraswati & Suriyanto, CNN Indonesia | Minggu, 28/01/2018 08:02 WIB
Adolf Heuken soal Rumah VOC Cimanggis dan Abainya Pemerintah Sejarawan Adolf Heuken bicara soal Rumah Cimanggis di Depok, Jawa Barat. (CNNIndonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah bangunan kuno di Cimanggis, Depok, Jawa Barat tengah jadi perbincangan karena Disebut bakal dirobohkan untuk kepentingan pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Pemerhati sejarah menolaknya karena tingginya nilai historis bangunan yang belakangan dikenal dengan Rumah Cimanggis itu.

Salah satu yang jadi rujukan sejarawan adalah buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta karangan Adolf Heuken. Dalam buku tersebut ditulis, Rumah Cimanggis adalah beberapa dari bangunan milik petinggi Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

CNNIndonesia.com berkesempatan mewawancarai Adolf Heuken di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (26/1). Ia menerima kami di ruangan kerjanya yang adem, dipenuhi buku-buku sejarah.


Tak cuma Rumah Cimanggis yang jadi bahan pembicaraan kami dengan pria asal Jerman yang sudah 55 tahun tinggal di Indonesia itu. Kami juga membahas soal tak perdulinya pemerintah pada bangunan bersejarah, hingga butuhnya kepemimpinan yang kuat di Ibu Kota untuk menjaga benda-benda bersejarah.

Dalam perbincangan sekitar 60 menit, pria 88 tahun tersebut tampak geram dengan banyaknya bangunan peninggalan sejarah yang hilang atau diabaikan. Beberapa kali dia mengetuk-ngetuk meja untuk melampiaskan kekesalannya.

Dalam bukunya, Heuken menulis bahwa Rumah Cimanggis dibangun antara tahun 1775 hingga 1778 oleh David J Smith untuk mengganti sebuah pesanggrahan sederhana. Pemiliknya adalah janda Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus van der Parra.

Rumah tersebut menurut Heuken berperan sebagai pusat usaha membuka hutan antara Jakarta dan Bogor.

Pasar Cimanggis yang ada tak jauh dari rumah tersebut adalah pos penting yang dimiliki pemilik rumah ini. Pasar tersebut menjadi tempat peristirahatan bagi mereka yang menempuh pernjalanan melelahkan antara Batavia dan Bogor. Di tempat itu pula, mereka biasanya menukarkan kuda mereka.


Bisa ceritakan soal Rumah Cimanggis?

Dulu Depok masih berupa hutan. Dibuka dengan cara menebang pohon dan rawa-rawa dikeringkan agar bisa dipakai. Kalau sekarang kita lihat antara Jakarta-Bogor sudah terbuka, dulu tidak begitu. Masih banyak binatang buas, hanya ada beberapa desa antara Jakarta-Bogor dan sangat berbahaya. Yang (berani) lewat hanya orang-orang dalam kelompok atau budak belian yang melarikan diri dari Batavia.

(Keberadaan) Rumah Cimanggis ini membuka hutan belantara di Depok. Jarak antara Bogor dan Jakarta terbuka dan bisa dipakai, semula yang tidak aman menjadi aman.

Dulu waktu pertama kali saya datang ke Indonesia, masih ada beberapa (bangunan seperti Rumah Cimannggis) sekarang tinggal satu dua.

Layakkah dibongkar untuk jadi universitas?

Kalau mau bangun universitas, tanah masih luas, tidak perlu membongkar rumahnya. Bisa saja dipakai untuk bangunan rektorat, perpustakaan, biro-biro, bahkan untuk kuliah. Tidak ada alasan untuk membongkarnya, tapi (banyak) alasan untuk memelihara dan membangunnya kembali.

Apa harus jadi museum?

Tak semuanya (bangunan kuno) harus dijadikan museum. Bangun saja kembali seperti aslinya. Ada ahli yang bisa membuaatnya seperti sedia kala. Misalnya, Balai Kota, Museum Sejarah, Museum Keuangan, Gedung Arsip.

Ini cara menghargai perkembangan masyarakat Jawa Barat. (Kalau dirobohkan) nanti orang-orang sesudah kita hanya bisa (tahu dari) baca buku, tidak bisa melihat lagi ada rumah sebesar ini di luar Batavia, tidak bisa menyentuh dan merasakan langsung.
Sejarawan Adolf Heuken soal Rumah Cimanggis dan Abai SejarahKondisi Rumah Cimanggis di Depok, Jawa Barat saat ini.(CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)

Apa benar bangunan pertama di kawasan depok?

Bukan yang paling tua, tapi yg lebih tua sudah banyak yang hilang. Pada Abad ke-17 orang Belanda datang ke sini mendirikan Jakarta tahun 1619, mereka urus kota, tumbuh pelan-pelan. Posisi sekitarnya harus diurus.

Awalnya, Belanda pelum minat ke Bogor. Baru setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff mulai memakai Bogor dengan membangun tempat yang sekarang, Istana Bogor. Lalu mulai lalu lintas antara Batavia dan Bogor, mulai orang membagun rumah di jalurnya.

Mengapa keberadaan rumah ini penting?

Sudah 200 tahun lebih. Saat itu masih hutan banyak binatang buas, tidak ada jalan untuk kesana harus pakai pisau untuk bisa (buka) jalan. Banyak yang bilang ini urusan Belanda, ini salah. Yang tinggal di sana mungkin tiga, empat orang Belanda dan puluhan orang Indonesia yang tinggal dan kerja di sana.

Nasib mereka mau kita lupakan? Walaupun mungkin nasib mereka jelek, tapi apa mau kita lupakan, hanya mengingat orang-orang besar saja. Ini suatu sikap tolol, yang tidak bertanggung jawab pada sejarah bangsa sendiri. Oke mungkin tidak perlu cerita tentang yang bikin rumah, tapi cerita orang paling banyak yang hidup di sana, ada bahan tentang itu, ceritakanlah.
Adolf Heuken Bicara soal Rumah Cimanggis Hingga Abai SejarahSejarawan Adolf Heuken bicara soal Rumah VOC Cimanggis, Depok. (CNN Indonesia/Suriyanto)

Aktivitas apa yang melibatkan Indonesia di sana?

Mereka kerja di sana, meraka menebang hutan. Orang -orang Bali membuka hutan sekitar Batavia dan menanam padi pertama, baik orang Bali yang bebas atau yang jadi budak, mereka buka tanah, mau kita lupakan?

Kalau dibongkar, nanti tak ada bukti, tak ada yang bisa dilihat. Mengapa orang bikin rumah sebesar itu di sana. Sifat tidak perduli (sejarah) itu jelek. Tidak peduli nasib bangsa sendiri. Jagalah dan ceritakanlah. Minta orang Depok cerita. Bikin satu buku tentang nasib orang di sana, orang yang kerja di sana.

Pernyataan Wapres JK soal Rumah Cimanggis milik petinggi VOC yang korup?

Van Der Parra punya beberapa rumah besar seperti ini, seperti di kawasan RSPAD saat ini. Memang dia korup, suka mewah. Tapi dia hanya satu orang, puluhan orang di sekitarnya lebih penting.

Kalau Rumah Cimanggis dibongkar habis dan dibangun kembali memang tidak masalah?

Tidak masalah, seperti Gedung Arsip Nasional dibikin baru lagi seperti dulu, tapi belajar sejarah dulu lihat foto dulu, dengar cerita orang-orang, baca dulu cerita orang yang pernah liat gedung itu, lihat gedung lain di jaman itu.

Memang Jakarta berkembang bukan main, tapi susah diurus kalau tidak tahu dan tidak ahli. Apalagi Bodatabek di sekitarnya berkembang liar, seperti kalau tidak ada resapan air, Jakarta dapat airnya, banjir.

Lalu lintas setiap hari lebih dari 2 juta orang keluar masuk. Ini pekerjaan raksasa, mesti ada gubernur yang sangat pintar.

Tidak perlu tahu sejarah, tapi perlu orang yang tahu. Penasihatnya misalnya, jika dia bikin yang berlawanan sejarah, tidak boleh itu.

Soal Rumah Cimanggis, ini bukan masalah dua atau tiga orang Belanda, tapi puluhan nasib orang Indonesia yang kerja di sana. Itu harus dilihat, mereka kerja di dalamnya dan tinggal di sekitarnya.

Bagaimana sikap pemerintah selama ini pada bangunan bersejarah selama ini?

Memang ada pelarangan untuk pembongkaran, pengakuan ada bahwa itu adalah gedung bersejarah, misalnya seperti rumah ini adalah gedung bersejarah. Tetapi kalau saya lihat, dibongkar-bongkar juga. Dulu saya di Dewan Penasihat P2B (Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan), yang kasih izin bangunan. Saya pernah bilang ini (bangunan di Menteng) tidak boleh (dibongkar). Lalu dikasih tanda larangan, tapi dicabut dan dibongkar karena ada duit. Jadi saya tidak mau lagi. Sila pertama adalah duit.

Soal Rumah Cimanggis juga urusan duit, orang mau bikin kampus besar pasti urusannya duit. Karena tidak tahu (urusan sejarah), tidak berusaha tahu. Tidak tahu berusaha pun tidak.

Apa permasalahan mendasarnya?

Orang Jakarta lebih dari separuhnya tidak lahir di sini. Orang Jakarta yang orang tuanya yang lahir di sini juga sedikit maka mereka tidak punya akar di sini.

Permasalahan yang ada di pemerintah?

Memang ada semacam instansi untuk sejarah tapi lemah. Punya kuasa tapi tidak punya duit. Yang punya duit tidak peduli. Dulu saya sering kerja dengan Dinas Museum dan Sejarah, tahun 1980-an, ada bapak-bapak tua yang tahu Belanda yang tahu latar belakang, tapi tidak punya uang.

Selama ini selalu dikatakan, kita jaga gedung-gedung dari masa lalu demi turis. This is crazy. Itu milik kita, turis datang atau tidak, kasih uang atau tidak, itu secondary. Yang pertama, sejarah adalah milik orang yang tinggal di tempat itu. Kita tidak jual hal yang bersejarah pada turis, tapi kita harus tahu sendiri.

Selain itu ada kekurangan kesadaran tentang sejarah. Orang lebih suka pada cerita, story, tapi tidak dengan history. Misalnya kalau mau tahu sejarah zaman dulu, baca sebuah tulisan jawa kuno. Memang ada cerita di dalamnya tapi ada campuran mistik, gaib. Oke kita mesti tahu tapi di dalamnya ada sisa-sisa sejarah. Ambil dan cek sehingga bisa kembali sejarah yang sebenarnya.

[Gambas:Video CNN] (sur)