Kios Energi dan Lentera Penerang Warga Sumba

Feri Agus, CNN Indonesia | Selasa, 30/01/2018 04:13 WIB
Kios Energi dan Lentera Penerang Warga Sumba Berbekal pengubah energi matahari jadi listrik, Margaret dan Nicolaus, mengelola Kios Energi yang membantu warganya di Sumba nikmati pelita atau cahaya. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Sumba, NTT, CNN Indonesia -- Listrik merupakan salah satu kebutuhan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Namun, listrik menjadi barang 'mewah' di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena sebagian masih belum menikmati aliran listrik.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik, setidaknya untuk penerangan di malam hari, Hivos melalui Renewable Energy Service Center Organization (RESCO) memfasilitasi warga dengan 'Kios Energi' yang memanfaatkan tenaga matahari. 

Salah satunya Kios Energi milik pasangan suami istri, Nicolaus Dao (47) dan Margaretha Katida (43). di Desa Delo, Wewewa, Kabupaten Sumba Barat Daya.

"Begitu kami lihat lampu di Wewula ternyata sangat menolong, sangat membantu kami, karena posisi awal kami pakai lampu pelita," kata Margaret saat CNNIndonesia.com berkunjung ke kiosnya, Minggu (28/1).


Margaret belum lama menjalani kios tersebut bersama suaminya. Ia dan sang suami baru bergabung dalam program RESCO pada Mei 2017. Saat itu, hanya 50 lentera yang dirinya terima dari RESCO. Namun, kata dia, dalam hitungan minggu lentera tersebut sudah habis diminati masyarakat. 

Margaret mengatakan, untuk saat ini sudah ada 150 masyarakat yang telah memiliki lentera. Mereka, imbuhnya, terdaftar sebagai anggota tetap di Kios Energi yang ia kelola.

Untuk mendapatkan satu alat pelita tersebut, kata Margaret, warga diharuskan menjadi anggota dan wajib membayar Rp50 ribu. Selanjutnya, para pemilik lentera itu dikenakan biaya sebesar Rp2.000 untuk sekali mengisi daya.

"Sampai 300 kali cas. Lampu ini jadi milik masyarakat," ujar Margaret menerangkan batas maksimal pengisian daya dari alat pelita tersebut.

Untuk membantu pengisian daya, Margaret dan Nicolaus memiliki empat panel surya yang terpasang. Panel tersebut yang mengubah sinar matahari menjadi aliran listrik. Panel surya tersebut bisa menampung sekitar 400 Watt.

Soal harga keanggotaan dan sekali cas, Margaret mengklaim itu tak berat bagi warga di sana. Selain itu, pemanfaatannya pun berisiko kecil tehradap kesehatan keluarga.

"Lentera ini tidak merugikan kesehatan, terus cahaya mendukung kebutuhan rumah tangga, jadi masyarakat sangat senang, tidak merasa terbebani, senang sekali," ujar Margaret.

Kios Energi dan Lentera Penerang Warga SumbaBentuk lentera yang diberikan kepada masyarakat anggota Kios Energi. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Lentera yang diberikan kepada masyarakat menyerupai senter. Panjangnya sekitar 30 sentimeter. Lentera tersebut juga memiliki daya tahan yang cukup lama. Bila pemakaian hemat, masyarakat bisa mengecas lentera itu 4 sampai 6 hari sekali. 

Mengecas lentera itu juga tak membutuhkan waktu lama. Ketika matahari bersinar terik, lentera hanya butuh waktu 2 sampai 3 jam untuk diisi sampai penuh kembali. Sementara bila langit mendung, waktu mengisi daya listri lentera sekitar 4 sampai 5 jam. 

Margaret menyatakan, PLN juga memiliki program serupa dengan memanfaatkan panel surya. Program tersebut bernama lampu SEHEN. Namun, tak semua masyarakat mendapatkan alat tersebut. 

Harga alat tersebut pun lebih mahal yakni sebesar Rp250 ribu, dengan satu panel surya dan tiga buah lampu. Namun, kapasitas penampung listrik dan kualitasnya tak begitu bagus. Masyarakat juga harus membayar Rp36 ribu setiap bulannya.

"Ini (lampu panel surya) bantuan PLN kami juga dapat. Tetapi kalau listrik masuk, lampu dikembalikan ke PLN. Saat ini baru (pemasangan) tiang," tuturnya seraya menunjuk beberapa tiang yang telah terpasang, namun belum ada kabel yang dihubungkan.

Menurut Margaret, tiang yang sudah berdiri di sisi-sisi jalan baru terpasang tiga sampai dua bulan lalu. Rencana PLN, kata dia, listrik sudah bisa dinikmati masyarakat yang tinggal dekat dengan jalan pada Maret 2018.

"Kurang tahu, katanya Maret 2018. Tetapi kalau listrik masuk, pengalaman yang saya lihat dari ade ipar. Kalau listrik masuk, orang tetap butuh (lentera)," tuturnya.

Kios Energi dan Lentera Penerang Warga SumbaMargaret dan Nicolaus sudah menjadi bagian dari Kios Energi sejak Mei 2017. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)


Untung Karena Kios Energi

Margaret mengaku mendapat keuntungan dengan membuka Kios Energi. Kios sembako yang dirinya buka lebih dulu terdongkrak setelah banyak masyarakat yang datang untuk mengecas lenteranya. 

Menurut Margaret, dirinya setiap bulan wajib menyetor Rp900 ribu kepada RESCO untuk hasil Kios Energi tersebut. Namun, dia enggan merinci keuntungan yang dirinya dapat dari 'menjual' listrik untuk mengisi lentera.

"Selama ini saya tidak perhatikan keuntungannya, tapi kita merasa ada untung," tuturnya. 

Selain melayani cas lentera, Margaret juga menyediakan cas ponsel. Biaya cas telepon genggam itu sama dengan biaya cas lentera. Dari cas ponsel Margaret mengaku bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp600 ribu setiap bulannya. 

Margaret juga memiliki televisi, yang bisa dimanfaatkan masyarakat sembari menunggu lenteranya dicas. Akibat ada televisi dan pengecasan ponsel itu, Margaret diharuskan membayar ke RESCO sebesar Rp1,1 juta.


30 Kios Energi di Sumba

Kios yang dikelola oleh Margaret dan suaminya itu adalah satu dari 30 Kios Energi yang tersebar di Pulau Sumba. Teknisi RESCO, Jetty Arlenda Maro (28) menerangkan pihaknya pun telah memasang kios energi di sekolah yang ada, serta 50 lagi untuk pertanian.

Jetty menjelaskan, tak semua masyarakat bisa menjadi agen Kios Energi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi calon pemilik kios.

Syarat pertama, kata Jetty harus memiliki kios sembako yang telah lebih dulu buka, kedua rumahnya berada dekat dengan lingkungan masyarakat lainnya, dan ketiga calon pemilik kios harus benar-benar bersedia bergabung dengam program RESCO.

"Difasilitasi semua tanpa mengeluarkan biaya. Istilahnya sistem kita, bukan kita kasih gratis ke mama Margaretha, tapi sistemnya menitip di kiosnya mama Margaretha," kata Jetty.

Dari total 30 kios ada sekitar 3.257 lentera yang tersebar di seluruh Pulau 'Kuda Liar' itu. Menurutya, RESCO yang bertanggung jawab dalam perawatan lentera yang dimiliki masyarakat  bila mengalami kerusakan. 

"Jadi RESCO ini kerjanya se-Pulau Sumba. Jadi pelayanan ada di (Kabupaten) Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya," ujarnya. (kid/kid)