"Sekarang ini masih ada rekrutmen, reproduksi dan pelatihan. Saya enggak bisa menjamin tidak ada ledakan bom di Indonesia karena itu semua masih berjalan," kata Fauzi dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2).
Fauzi mengaku masih mengikuti perkembangan teroris meski mengaku sudah meninggalkan dunia teroris. Ia sering berbagi informasi pergerakan teroris dalam beberapa diskusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang polisi enggak percaya kalau teroris Indonesia bisa merakit bom. Padahal teroris Indonesia mendapat pelatihan untuk rakit bom dari skala kecil sampai besar," kata Fauzi.
Dari pengalaman yang didapat, ia tahu bagaimana teroris Indonesia beraksi. Ia yakin teroris yang berada di Indonesia dipengaruhi pihak luar.
"Pada tahun 2000 sampai 2010 itu pengaruh dari Al Qaeda, maka terbentuk Jamaah Islamiyah (JI), saya gabung di situ. Kemudian tahun 2010 sampai 2017 dipengaruhi ISIS, maka terbentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD)," kata Fauzi.
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar UIN Jakarta Azyumardi Azra menyampaikan hal serupa. Ia yakin teroris yang selalu dikaitkan dengan agama Islam, bukan berasal dari Islam di Indonesia.
"Agama Islam yang berkembang di Indonesia itu Islam yang toleran dan tidak suka kekerasan. Islam yang suka kekerasan dan teroris itu berasal dari luar. Seperti Fauzi ini yang dipengaruhi Al Qaeda," kata Azyumardi.