Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ, Karlo Manik mengatakan tiga kebijakan ini disebabkan peningkatan kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek. Selain jumlah kendaraan yang menyentuh 560 ribu kendaraan dalam sehari, tiga proyek infrastruktur (LRT, MRT, Elevated) juga dianggap menjadi faktor penyebab peningkatan kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek.
Kebijakan yang diberlakukan pada 12 Maret mendatang itu, pertama, pembatasan jam operasional angkutan barang golongan III, IV, V, yaitu pukul 06.00 sampai 09.00 WIB pada hari Senin sampai Jumat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karlo menjelaskan pihaknya mempersilahkan pengendara mobil pribadi apabila mau masuk dari gerbang tol lainnya. Akan tetapi, BPTJ berharap para pengendara mobil pribadi menggunakan bus yang telah disediakan BPTJ.
"Kami sudah menyediakan 60 bus dengan berbagai tujuan, kami juga sudah menyediakan tempat parkir. Kami konfirmasi, tarif parkirnya hanya Rp10 ribu flat. Bus premium hanya Rp20 ribu, fasilitasnya, colokan listrik, wifi, AC." kata Karlo
Adapun lokasi kantong-kantong parkir itu berada di Mega Mall Bekasi, Mal Metropolitan Bekasi, Bekasi Cyber Park, dan Stadion Patriot Bekasi. Karlo menjelaskan satu kantong parkir dapat menampung 150 mobil.
Kebijakan ketiga, lanjut dia, pembuatan Lajur Khusus Angkutan Umum (LKAU) di tol Jakarta-Cikampek. Lajur ini bisa digunakan untuk semua angkutan umum. Lajur ini ia harapkan bisa menarik minat pengendara untuk beralih menggunakan angkutan umum.
"Kita juga tidak hanya mengatur mobil pribadi di pintu tol Bekasi Barat dan Timur, tapi juga memikirkan untuk orang beralih ke angkutan umum. Jadi kita siapkan Lajur khusus Angkutan Umum (LKU)," kata Karlo.
Namun, Karlo menyebut kebijakan ini diterapkan secara situasional. Apabila proyek infrastruktur telah usai dan arus lalu-lintas kembali berjalan normal, Karlo menyebut kebijakan ini bisa dihentikan.
"Memang benar latar belakang kebijakan ini salah satunya didasari oleh tiga proyek. Kalau memang nanti setelah pembangunan itu lancar ya kebijakan ini tidak permanen. Kalau hasil evaluasi harus terus dilaksanakan ya dilaksanakan lagi," kata Karlo.
Akumulasi
Dalam kesempatan yang sama, General Manager Jasa Marga Cabang Cikampek, Raddy R.Lukman, menyebut tingginya V/C ratio tol Jakarta-Cikampek menjadi alasan ketiga kebijakan diterapkan.
V/C ratio adalah perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas ruas jalan.
"Pada saat V/C Ratio mendekati 0,9 itu mulai padat. Ruas tol Cikampek memang rata-rata sudah melewati 1. Karena memang ruas terpadat ada di situ. Jadi diharapkan bisa mengurai kemacetan," ucap Raddy.
"Tingginya proporsi kendaraan berat di Cikampek, rata-rata 20 persen dari jumlah kendaraan. Bahkan 70 persen kendaraan berat ini overload. Dampaknya akan mengurangi kecepatan kendaraan di ruas tol," kata Raddy.
Tiga proyek infrastruktur yang dilaksanakan bersamaan juga mengurangi kapasitas jalan. Hal-hal tersebut yang menjadi akumulasi penyebab kemacetan di tol Jakarta-Cikampek.
"Kita tahu Jakarta-Cikampek itu memang spesial, selalu padat. Golongan I dominan dari pagi sampai malam di sana. Malam sampai pagi mobil angkutan besar dominan. Hampir tidak ada waktu yang tidak padatnya," ujar Raddy. (osc/wis)