Demi Kepercayaan Publik, Kapolri Minta Reserse Introspeksi

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Rabu, 07/03/2018 10:01 WIB
Demi Kepercayaan Publik, Kapolri Minta Reserse Introspeksi Kapolri Tito Karnavian menyinggung soal reserse sebagai bagian yang paling sering dikeluhkan kinerjanya oleh publik. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian, meminta jajarannya yang ada di bidang reserse untuk melakukan introspeksi.

Tito mengharapkan itu agar bisa mempertahankan bahkan meningkatkan tingkat kepercayaan publik pada institusi Polri yang saat ini menduduki peringkat keempat di bawah Presiden, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Dalam sambutannya pada acara Rapat Kerja Teknis Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri kemarin, Tito menyatakan reserse merupakan bidang terbesar penyumbang citra Korps Bhayangkara di mata publik.


"Reserse paling banyak komplain tertinggi. Saya minta pada kesempatan ini betul introspeksi," kata Tito dalam pembukaan Rakernis Bareskrim Polri di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, kemarin.

Andai kinerja reserse dalam menangani kasus bisa diperbaiki, Tito optimistis kepercayaan publik pun membaik.

"Kalau penanganan reserse baik, bisa kembalikan kepercayaan publik. Sebaliknya, kalau nggak baik, menyumbang paling besar ketidakpercayaan publik yang besar," kata mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Menanggapi hal tersebut, dikonfirmasi kemudian, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto, mengatakan reserse tidak bisa menyenangkan semua pihak dalam penanganan perkara. Menurutnya, pasti ada pihak yang merasa puas dan tidak puas pada kinerja Polri.

"Pelapor kalau prosesnya berjalan lancar, dia senang. Tersangka, dia tidak senang sama polisi yang menyidik," kata Ari kemarin.

Ari mengatakan, perasaan puas atau tidak puas tersebut merupakan hal yang manusiawi. Namun, proses hukum tidak bisa dilakukan hanya untuk menyenangkan satu pihak.

Dia menambahkan, pengusutan suatu perkara juta harus berlandaskan pada penegakan hukum yang proporsional.

Jenderal bintang tiga itu pun memastikan penyidik akan terus memperbaiki kinerja agar reserse tak lagi dicap sebagai bidang yang membuat citra Polri menurun.

"Seperti kami melaksanakan kegiatan pelatihan, kemudian pelayanan cepat, transparansi. Supaya masyarakat yang kami tangani paham bahwa apa yang dia kehendaki, kami hanya bisa melayani seperti yang dia rasakan," ujar Ari.


Pada sambutannya kemarin, Tito pun sempat menyinggung soal kinerja jajarannya di bidang lalu lintas yang perlu mengalami banyak perbaikan. Kemudian, Tito meminta jajaran polisi yang ada di bidang hubungan masyarakat (humas) harus memahami manajemen media untuk menunjukkan citra polisi. Menurut dia, humas merupakan corong utama Polri dalam membentuk opini di masyarakat.

"Kita 400 ribu orang, berbuat baik satu saja tapi tidak naik viral, (kemudian) satu saja berbuat kurang tapi viral seolah semuanya buruk. Tapi satu polisi lalu lintas membantu nenek yang sedang mengangkat karung tapi viral, itu mewarnai seolah-olah polisi baik semua, ini penting bagi manajemen media," tuturnya.

Tito juga meminta jajarannya yang bertugas di bidang teknologi informasi (TI) untuk meningkatkan kinerja. Menurutnya, di era seperti saat ini TI merupakan tulang punggung sebuah organisasi. (kid/kid)