Pengamat politik Ray Rangkuti menilai perilaku Fadli dan Fahri jadi cerminan bahwa partai oposisi saat ini tidak menjalankan fungsinya dalam menawarkan gagasan alternatif.
Menurut Ray, baik Fahri maupun Fadli, keduanya masih terlalu banyak membicarakan hal yang remeh temeh dan tidak menyasar pada permasalahan bangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ray mencontohkan saat Presiden Joko Widodo mengunggah vlog latihan tinju. Menurutnya video tersebut biasa saja dan tidak ada hal yang harus dikomentari berlebihan. Namun Fahri dan Fadli kompak berkomentar miring dan mengaitkan dengan pilpres 2019.
"Hal seperti itu saya rasa mereka harus mulai mengatur diri, mana wilayah penting yang dikomentari mana yang tidak," ucapnya.
Ray menambahkan sebetulnya Fadli dan Fahri bisa mewakili oposisi untuk mengoreksi kekuasaan. Hal ini penting sebagai bagian dari pendidikan kepada masyarakat dalam berdemokrasi.
Menurutnya hanya partai di luar kekuasaan yang mampu melakukan pendidikan politik kepada publik terkait hal itu.
"Di mana-mana partai penguasa fokus mempertahankan kekuasaaan. Yang efektif partai yang di luar kekuasaan," ujar Ray.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Indonesia Watch for Democracy (IWD) Abi Rekso menyebut manuver Fahri dan Fadli seperti menawarkan gagasan, tetapi sebenarnya berniat menjatuhkan pihak lain.
Menurut Abi, sebagai oposisi seharusnya Fahri dan Fadli melakukan kritik terhadap kebijakan partai penguasa yang masih belum sempurna.
"Kritik berangkat dari kebijakan, misalnya banyak proyek terlambat, infrastruktur berantakan, kebijakan ekonomi, kenapa tidak diserang di situ?," ucapnya. (dal/pmg)