'Cahaya' Kemanusiaan Pendeta Bertato dari Semarang

Damar Sinuko | CNN Indonesia
Jumat, 30 Mar 2018 13:22 WIB
Pendeta Agus Sutikno di Semarang memberikan pertolongan kepada kaum marginal di balik penampilannya yang bertato dan gondrong. Pendeta Agus Sutikno di Semarang memberikan pertolongan kepada kaum marginal di balik penampilannya yang bertato dan gondrong. (Foto: CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian orang mungkin tak menyangka Agus Sutikno adalah pendeta gara-gara penampilannya.

Dia memiliki badan dan wajah penuh tato, rambut gondrong dan kerap mengenakan sepatu boots. Bisa jadi, pria berusia 43 tahun itu lebih mirip pemain musik aliran cadas.

Namun, pendeta itu justru memberikan pertolongannya kepada kaum papa. Ini macam pecandu narkoba, Penjaja Seks Komersial (PSK) hingga mereka yang terjangkit virus HIV/AIDS.


Perubahan hidup Agus dimulai sejak 15 tahun lalu.

"Hidup saya dulu berantakan, nakal, sampai melawan orang tua. Tapi sudahlah, saya tidak mau menguliknya kembali, itu masa lalu yang tidak pas untuk saya ceritakan kepada banyak orang," kata dia kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Dia sempat masuk ke Sekolah Teologia di Probolinggo, Jawa Timur. Setelah lulus, Agus kemudian memutuskan untuk memberikan pelayanan rohani dan kemanusiaan di kawasan kumuh Kota Semarang.


Pelayanan kemanusiaan dan rohani yang dilakukan Agus di jalanan akhirnya membuat dirinya kerap disebut 'pendeta jalanan'. Agus kemudian merintis dan mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa di kawasan Tanggul Indah Semarang, yang juga dikenal sebagai lingkungan prostitusi jalanan.

Hanya dengan ruangan berukuran 3x5 meter, yayasan tersebut juga menjadi rumah belajar bagi 150 anak-anak dari keluarga miskin.

"Yayasan ini menjadi pengayom bagi mereka yang membutuhkan. Mereka yang dermawan memberikan bantuan, disalurkan oleh yayasan," ujar Agus.

Melanjutkan Studi

Septi (18), salah satu dari anak Yayasan Hati Bagi Bangsa bersyukur karena bisa mengenal pendeta jalanan tersebut. Septi yang nyaris berhenti putus di SMA mendapat dukungan hingga kini dapat meneruskan pendidikannya ke Perguruan Tinggi.

"Bangga, bersyukur sekali kenal dan dekat sama Om Agus. Saya tidak mungkin seperti sekarang tanpa Om Agus. Dia menolong tanpa membedakan golongan dan agama," kata Septi.


Khusus di masa Paskah, Agus menyatakan perayaan itu selalu menjadi motif menolong sesama tanpa melihat latar belakangnya.

"Ini yang saya pakai untuk melakukan pelayanan kemanusiaan secara nyata," papar Agus. (asa/asa)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER