FOTO: Neraka 'Abadi' Bernama Citarum

CNN Indonesia | Kamis, 05/04/2018 15:57 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Citarum menjadi bagian penting bagi masyarakat Jawa Barat dan Jakarta. Namun, limbah yang tak kunjung berhenti turut menghancurkan kehidupan warga sekitar.

Pabrik yang beroperasi di salah satu kawasan anak usaha Sungai Citarum pada Sabtu (31/3). Pemerintah menyatakan pabrik menjadi salah satu penyumbang limbah di Citarum. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.)
Salah seorang warga yang tinggal di kawasan Sungai Cikijing melakukan aktivitas keseharian, Sabtu (31/3). Cikijing menjadi tempat pembuangan limbah dari industri sehingga berpengaruh pada kehidupan masyarakat. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono.)
Warna pekat yang sering kali disertai buih menjadi tanda tercemarnya aliran Sungai Citarum, Sabtu (31/3). Warga pun terganggu karena sumber air mereka tercemar. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Warga melintasi di sekitar sungai Cikacembang yang merupakan anak sungai Citarum, Sabtu (31/3). Buih busa dan bau menyengat menjadi pemandangan sehari-hari warga sekitar.(CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Sebagian besar lahan pertanian di Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Sumedang tak luput dari pencemaran limbah. Gerombolan bebek melintas di kawasan tersebut, Sabtu (31/3). (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Aliran sungai Cikijing berwarna hitam akibat dialiri limbah tekstil mengalir ke Kampung Rancalongong, Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Sabtu (31/3). Di sisi lain, Presiden Jokowi meminta Citarum tak lagi menjadi tempat limbah raksasa. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Dadang, salah seorang petani Majaleya, menunjukkan tanah yang menempel di tanaman padi warga berwarna hitam akibat pencemaran. Limbah pabrik tidak hanya mencemari air tapi telah mengendap di tanah. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Limbah industri menyebabkan padi di Desa Sukamulya berkualitas buruk sehingga berdampak harga beras yang jatuh. Petani menunjukkan padi yang terkena imbas pada Sabtu (31/3) karena sistem irigasi pun diserang limbah. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Petani asal Majalaya, Yaya menyatakan padi rusak gara-gara limbah yang masuk ke aliran Sungai Citarum. Pada Sabtu (31/3) dia menuturkan limbah sering dibuang pada malam hari. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Warga menyatakan Citarum menjadi sumber penghidupan mereka, walaupun aliran limbah 'menyerang' setiap hari. Greenpeace menyatakan kerugian warga akibat limbah mencapai Rp11 triliun. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Salah satunya dialami oleh remaja Ganjar asal Majalaya yang berusia 13 tahun. Dia menyatakan pada Sabtu (31/3) dirinya menderita penyakit kulit karena menggunakan air Sungai Citarum yang sudah terkontaminas. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Selain limbah cair yang jelas terlihat, warga juga mengeluhkan kerap kali sesak nafas yang diduga akibat polusi udara dari asap pabrik. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).