Meski begitu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melihat peluang Prabowo yang tidak jadi maju sebagai bakal calon presiden tahun depan.
Politikus PKS, Nasir Djamil mengatakan pencalonan Prabowo belum final. Dia justru tidak yakin Prabowo pada akhirnya akan kembali maju dan akan memberi 'tiket' capres kepada orang lain yang dianggap tepat, dalam hal ini mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sinyal itu didukung pula oleh foto situasi perayaan HUT Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD yang viral (virus virtual) di media sosial. Tampak Prabowo dan Gatot hadir dan duduk bersebelahan. Hal itu terungkap dari foto yang diunggah akun twitter JS Prabowo.
[Gambas:Twitter]
Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun sepakat dengan pandangan Nasir Jamil. Dia menganggap saat ini masih terbuka kemungkinan Prabowo menjadi king maker dan menyerahkan mandat ke Gatot sebagai capres.
Ia mengatakan ada beberapa faktor yang dapat memungkinkan Prabowo menyerahkan mandat ke Gatot untuk Pilpres 2019 mendatang.
Pertama, Prabowo sedang mempertimbangkan daya elektabilitas Gatot yang cenderung difavoritkan sebagai capres maupun cawapres oleh sejumlah lembaga survei.
Berdasarkan survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI), nama Gatot masuk dalam bursa calon presiden dengan elektabilitasnya terbilang kecil yakni hanya 2,1 persen. Elektabilitas tersebut berada di posisi ketiga setelah Jokowi dan Prabowo Subianto.
Akan tetapi, elektabilitas Gatot sebagai cawapres memiliki angka tertinggi diangka 17,5 persen. Ia mengalahkan AHY dengan elektabilitas 8,7 persen dan Anies Baswedan 8,6 persen.
Sementara lembaga survei Alvara Research Center, nama Gatot Nurmantyo ada di posisi kedua dengan elektabilitas 15,2 persen. Ia kalah dari AHY dengan elektabilitas 17,2 persen.
Atas dasar itu, Gatot saat ini berada dalam pantauan Prabowo. Jika Gatot berhasil menaikkan terus elektabilitasnya, maka Prabowo bisa mempertimbangkan untuk menyerahkan 'tiket' capres kepadanya.
"Saya kira Prabowo masih mau lihat elektabilitasnya Gatot. Elektabilitasnya (Gatot) masih di bawah 10 persen. Jadi Gatot harus menaikan elektabilitasnya agar terus naik, maka Prabowo bersedia untuk menyerahkan kepada Gatot," kata Ubedillah.
Faktor Duit
Faktor selanjutnya, Ubedillah menilai, Prabowo sedang memikirkan ulang faktor logistik yang tak murah jika ingin maju sebagai capres 2019 mendatang.
Hal itu didukung pula oleh pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo yang mengatakan faktor logistik menjadi pertimbangan Prabowo untuk maju sebagai calon presiden 2019.
Menurut Ubedillah, kontestasi pemilihan presiden di Indonesia yang begitu liberal dan terbuka membutuhkan dana yang tak sedikit. Ia merinci setidaknya kandidat membutuhkan Rp3 triliun sampai Rp7 triliun untuk mengarungi seluruh tahapan pilpres.
"Untuk saksi saja sudah jutaan TPS, angkaya sudah trilunan, jadi logistik jadi faktor ya. Bagaimana kemudian Prabowo mengambil keputusan," kata dia.
Prabowo sebelumnya sudah dua kali berlaga di pilpres. Satu kali sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2009 dan sekali sebagai calon presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa di Pilpres 2014.
"Secara logistik sudah cukup banyak yang dikeluarkan Prabowo untuk ikut dalam konstestasi pilpres sebelumnya dan dua-duanya kalah. Jadi tambah tragis sih klo 2019 Prabowo kalah," ujarnya.
Gatot Nurmantyo dinilai sudah punya kedekatan emosional dengan Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Hesti Rika). |
"Gatot harus bisa membuka peluang publik untuk secara finansial memberikan dukungan kepada Gatot, bisa saja gatot membuka rekening buat dia jadi presidien," kata dia.
Faktor terakhir, kata Ubedillah, secara sosiologis Gatot berasal dari Pulau Jawa dan memiliki basis massa yang cukup besar, terutama dari kalangan Islam. Ubedillah menilai bahwa Gatot sudah memiliki modal sosial yang cukup untuk bertarung sebagai capres.
Ia mengatakan tugas Gatot tinggal mengikisi kelemahannya, yakni melobi secara intens parpol-parpol pendukung Prabowo, seperti Gerindra dan PKS, agar jalannya sebagai capres semakin mudah.
"Gatot punya hubungan yang dekat dengan kelompok muslim ya, yang moderat maupun yang sedikit galak itu, jadi Gatot bisa mengendalikan kedekatan secara baik, jadi secara sosiologis punya modal sosial yang cukup sebagai capres," ucap dia.
Kedekatan Emosional
Sementara itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati menilai ikatan emosional antara Prabowo dan Gatot sudah terjalin sangat dekat.
Hal itu terlihat dari posisi duduk antara Gatot dan Prabowo yang saling berdekatan saat menghadiri HUT Kopassus kemarin, Senin (16/4).
Menurutnya, tempat atau posisi duduk yang saling berdekatan merupakan simbolisasi Prabowo secara politik untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa Gatot merupakan tokoh yang berpeluang besar akan diberikan mandatnya sebagai capres 2019 mendatang.
"Kedekatan posisi duduk itu menunjukan kedekatan emosional dan menunjukan secara politik menyimbolkan bahwa 'inilah orang yang terpilih atau saya tunjuk'," kata Wasisto.
"Jadi saya rasa dari situasi itu, bisa jadi GNR (Gatot Nurmantyo) yang akan diberikan mandat oleh Prabowo," kata dia.
Menurut alumnus Universitas Gadjah Mada itu, Gatot memiliki nilai jual yang lebih di mata masyarakat ketimbang Prabowo. Hal itu didasarkan pada pergerakan Gatot yang secara cepat berhasil menghimpun kekuatan relawan untuk mendukungnya di Pilpres 2019 mendatang pascapensiun dari militer 1 April lalu.
Diketahui, Gatot memiliki dua kelompok relawan yang kukuh mengusungnya sebagai capres, yakni Relawan Selendang Putih Nusantara (RSPN) dan relawan Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR).
"Ini (relawan Gatot) ditangkap Gerindra menjadi nilai bagus dan nilai topang untuk pengusungannya nanti. Kalau dia nggak punya relawan, sulit bagi partai untuk mengusungnya lebih lanjut," ujar dia. (osc/gil)
Gatot Nurmantyo dinilai sudah punya kedekatan emosional dengan Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Hesti Rika).