"Kalau di sini siapa yang terbaik Pak?," tanya Najwa seraya menunjukkan foto-foto tokoh untuk cawapres Jokowi dalam program Mata Najwa 'Eksklusif: Kartu Politik Jokowi yang ditayangkan di Trans 7, Rabu (25/4) malam.
Foto-foto yang dimaksud adalah Muhaimin Iskandar, Muhammad Romahurmuziy, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono dan Anies Baswedan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang namanya demokrasi semuanya terbuka, saya kira tak ada masalah. demokrasi semakin banyak pilihan semakin baik," kata Jokowi.
Jusuf Kalla sendiri diakui Jokowi sebagai sosok yang terbaik untuk menjadi cawapres. Oleh karena itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku dirinya akan dengan senang menggandeng kembali JK jika tak tertutup oleh konstitusi.
"Kenapa tidak, kalau memang undang-undang, konstitusi membolehkan kenapa tidak. Beliau termasuk yang terbaik, pak JK... Ya, Beliau menurut saya yang terbaik," tegas Jokowi.
Sehari sebelumnya, kepada CNNIndonesia.com, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun menganalisis sikap Jokowi dan PDIP yang masih terus menimbang, dan tak kunjung mengumumkan calon wakil presiden.
"Mengapa Jokowi tak segera mengumumkan cawapres itu menunjukan kegamangan, sudah politik tingkat tinggi itu," kata Ubedilah saat dihubungi CNNIndonesia.com Selasa (24/4).
Ubedillah berpendapat ada dua faktor yang membuat kegamangan politik antara Jokowi dan PDIP dalam memilih cawapres. Faktor pertama, Jokowi dan PDIP dibuat bingung oleh ulah para parpol koalisinya yang masing-masing berambisi mengajukan calonnya untuk mendampingi mantan Gubernur DKI Jakarta itu di Pilpres 2019.
Faktor lainnya, kata Ubedillah, peran Ketua Umum PDIP Megawati sebagai 'aktor kunci' di tubuh partai itu pun belum memberikan jawaban, serta rekomendasi yang tegas untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi cawapres Jokowi.
Ubedillah menilai Megawati tak ingin partainya kehilangan momentum andai kembali berhasil memenangi pilpres 2019. Ketika Jokowi tak bisa kembali dicalonkan pada Pilpres 2024, Ubedillah mengatakan Megawati partainya juga bisa memenangi pemilu pada tahun tersebut. (kid/asa)