"Saya enggak mikir terlalu jauh, lah. Mudah-mudahan enggak," kata Hanif di kawasan Kota Tua, Jakarta, Sabtu (28/4), menjawab kemungkinan May Day disusupi kepentingan politik
Lebih dari itu, Hanif tidak peduli jika pada perayaan May Day nanti ada yang menyuarakan agar dirinya dicopot dari jabatan Menaker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya enggak mikir yang kayak begitu-begitu. Pokoknya saya amanah, saya kerja sebaik-baiknya, cuma itu aja. Kalau yang lain-lain saya enggak urus," ucap Hanif.
Jika ingin memperjuangkan sesuatu, kata Hanif, diperjuangkan dengan hati yang riang gembira sehingga buruh akan merasa optimis terhadap apa yang diperjuangkan.
Selain itu, buruh akan lebih matang dalam menentukan metode atau strategi dalam memperjuangkan sesuatu.
"Itulah makanya kita pakai tagline May Day is a fun day," ucap Hanif.
Menurut dia setiap buruh berhak untuk merayakan May Day dengan kegiatan apa pun. Dengan kata lain, tidak ada keharusan bagi buruh untuk melakukan unjuk rasa atau demonstrasi.
"Ada yang bilang, 'May Day kok mancing, May Day ya demo'. Nah, itu monggo, yang mau demo silakan asal tertib, yang mau mancing silakan, mau liburan keluarga silakan," kata Hanif.
"Jangan menganggap paling benar. Yang penting itu," lanjutnya.
Gerakan itu disebut diperlukan sebagai kendaraan politik karena eksekutif dan partai-partai tak bisa menyuarakan aspirasi buruh.
Sekretaris Jendral Kelompok Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Daman Panca mengatakan 30 ribu dari 150 ribu buruh itu akan berunjuk rasa di Jakarta.
Aksi di ibu kota rencananya berupa long march dari Bunderan Hotel Indonesia (HI) menuju Istana Negara, yang kemudian dilanjutkan ke kantor Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO). Aksi ini dilakukan sejak pukul 09.00 WIB. (wis)