Direktur Eksekutif INES Oskar Vitriano mengatakan survei tersebut merupakan hasil nama-nama top of mind yang dihimpun dari 2.180 orang di 408 kabupaten dan kota. Di samping itu, survei yang diselenggarakan pada 12 hingga 28 April 2018 ini diklaim memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sebesar 2,1 persen.
Hasil yang sama juga terjadi jika survei dilakukan secara tertutup, yakni hanya mengerucutkan nama ke beberapa pilihan. Tercatat, 54,5 persen responden memilih Prabowo Subianto dan 26,1 persen memiih Jokowi jika pemilihan Presiden dilakukan hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, responden condong mencari sosok presiden baru lantaran tidak puas dengan pemerintahan saat ini.
Sebagian besar ketidakpuasan responden terdapat dari segi ekonomi, di mana 75,7 persen responden menganggap Jokowi tidak mampu menurunkan harga beras, 71,7 persen responden menganggap lapangan kerja semakin berkurang, dan 72,7 persen responden khawatir atas utang negara yang kian menggunung.
Survei INES ini bertolak belakang dengan hasil dari lembaga survei lain. Misalnya survei terbaru dari Indikator yang dilakukan pada 25-31 Maret 2018 terhadap 1.200 responden.
Sementara itu, berdasarkan survei top of mind, elektabilitas Jokowi tetap berada di urutan teratas, yakni 39,9 persen. Disusul Prabowo Subianto 12,1 persen, Anies Baswedan 0,9 persen, Hary Tanoesoedibjo, M Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang), dan Gatot Nurmantyo, masing-masing 0,7 persen.
Kaus #2019GantiPresiden. (CNN Indonesia/Andry Novelino). |
Oskar menambahkan, selain soal janji kampanye yang tak ditepati, responden yang disurvei lebih memilih Prabowo jadi presiden jika pemilihan dilakukan hari ini karena pengaruh kampanye media sosial #2019GantiPresiden.
"Kebanyakan responden juga mengaku mendapatkan info dari media sosial. Nah, fenomena media sosial ini bikin pergerakan elektabilitas cenderung dinamis, jadi mereka bisa terpengaruh dengan isu yang dibawa oposisi," ucap dia.
Sementara melalui survei tertutup, 21,4 persen responden masih memilih Muhaimin sebagai cawapres jika pilpres dilakukan saat ini. Oskar mengatakan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sebagai punggawa partai politik yang sudah punya pengalaman di pemerintahan.
Tercatat, Muhaimin pernah menduduki Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di tahun 2009 hingga 2014 silam di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Selain itu, ia juga dianggap sebagai kaum Nahdiyin yang berpengalaman, sehingga responden memilih dia dibanding nama lainnya," ujar dia. (osc/gil)
Kaus #2019GantiPresiden. (CNN Indonesia/Andry Novelino).