20 Tahun Reformasi

Wawan, Rompi Antipeluru, dan Sayur Asam Yang Belum Disantap

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 12:52 WIB
Wawan, Rompi Antipeluru, dan Sayur Asam Yang Belum Disantap Maria Cahtarina Sumarsih, Aktivis HAM sekaligus Ibu dari mahasiswa korban penembakan tragedi Semanggi 1998, Benardius Realino Norma Irawan atau Wawan saat dijumpai di kediamannya di Jakarta (25/4). (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maria Katarina Sumarsih tersentak saat mendangar 'curhatan' anaknya, Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, soal daftar lima besar mahasiswa target pembunuhan aparat pada November 1998.

"Bu, mosok, Bu, tadi ada temen kasih tahu ke Wawan, kalau Wawan itu masuk urutan nomor satu dari lima daftar mahasiswa yang akan dibunuh bu," kata Sumarsih, menirukan ucapan Wawan, 20 tahun lalu, saat ditemui CNNIndonesia.com di kediamannya, Meruya, Jakarta, Rabu (26/4).

"Ah yang bener? Serem banget. Wawan tahu dari mana daftar itu?" timpal Sumarsih, yang saat itu berusia 55.


"Dari teman Wawan, Bu. Dia dapat daftar itu dari intel. Sekarang kan semua kampus ada intel yang disuruh kuliah," Wawan menjelaskan.

Sumarsih lantas menyarankan Wawan yang saat itu masih duduk sebagai mahasiswa semester V Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya untuk berhenti dari semua kegiatan organisasi yang diikutinya.

"Sudah, Wawan organisasinya berhenti saja, kuliahnya dicepetin. Orang berjuang kan enggak harus demo, nanti kuliah, kerja, dan kalau udah dapat gaji sebagian hasilnya disumbangkan ke orang yang memerlukan. Itu perjuangan juga," ucapnya kepada Wawan.

Meski tak setuju dengan aktivitas Wawan, Sumarsih, yang ketika itu masih PNS Sekretariat DPR RI, memahami keinginan Wawan untuk berbuat sesuatu bagi perubahan Indonesia.

"Apalagi pas 12 Mei [1998] peristiwa Trisakti ada mahasiswa yang tewas ditembak," ujarnya.

Namun, Wawan, yang saat itu berusia 20 tahun, menolak tunduk. Ia meyakinkan Sumarsih bahwa dirinya akan baik-baik saja dan tetap melanjutkan perjuangannya.

Bentrokan antara aparat dan mahasiswa terjadi berkali-kali sepanjang 1998. Bentrokan antara aparat dan mahasiswa terjadi berkali-kali sepanjang 1998. (REUTERS)
Sejak krisis moneter dan politik pada medio 1998, Wawan menolak hanya duduk diam di dalam kelas. Ia bergabung dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) yang bergerak untuk mendampingi korban kekerasan dan mengadvokasi kelompok marjinal di Jakarta.

Wawan juga aktif dalam kegiatan organisasi di gereja dan Badan Eksekutif Mahasiswa Atmajaya.

Ia seringkali mengadvokasi warga-warga kecil di sekitar Jakarta, seperti mengajar anak jalanan, mendampingi dan memberi dukungan logistik kepada para korban kekerasan Tragedi Mei 1998, hingga melakukan aksi demonstrasi.

Namun demikian, Wawan, mahasiswa Unika Atma Jaya angkatan 1996, tetap merasa cemas. Ia berusaha mengantisipasinya dengan meminta dibelikan rompi antipeluru.

"Bu, Wawan minta beli rompi anti peluru ya? Harganya Rp150 ribu. Soalnya kan temen-temen Wawan pada punya rompi anti peluru semua, Bu," kata Wawan.

Gayung bersambut, Sumarsih yang khawatir dengan keselamatan anaknya langsung memberikan uang sebesar Rp200 ribu untuk membeli rompi antipeluru.

"Saya khawatir karena saat itu [Wawan] mau dihilangkan itu, makanya saya kasih. Terus juga kan di sekitar kampus Atmajaya kan banyak tank, terdengar tembakan terus tiap hari, tentara pake senjata-senjata, peralatan berat untuk perang ada disitu," kata Sumarsih.

Masalahnya, toko kehabisan stok rompi anti peluru saat itu. Sebagai gantinya, Wawan justru membeli jaket kulit biasa seharga Rp200 ribu.

Wawan adalah salah satu dari Wawan ditembak aparat ketika coba menyelamatkan temannya di gerbang kampus Unika Atma Jaya. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Sayur Asam dan Empal

Jumat (13/11/1998) pagi, Sumarsih sempat menelepon Wawan untuk menanyakan keadaannya. Wawan diketahui belum pulang dari kampusnya di kawasan Semanggi, Jl Jend. Sudirman, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.

Sumarsih juga meminta Wawan untuk pulang karena dirinya memasak makanan kesukaan wawan; sayur asam dan empal.

"Wan, pulang dulu ke rumah. Ibu memasak sayur asam sama empal nih," kata Sumarsih.

"Wawan masih di kampus, Bu. Enggak bisa keluar, dijaga ketat aparat, situasi seperti mau perang," ujar Wawan saat itu.

Sore harinya, Sumarsih pulang lebih cepat karena suasana di kompleks parlemen DPR/MPR sudah tak kondusif. Saat itu, Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengimbau agar kantor-kantor harus ditutup jam 15.00 WIB.

Sesampainya di rumah, dia menyaksikan dari layar televisi adegan mencekam di sekitar kampus anaknya. Salah satu mahasiswa terekam kamera terkena tembakan. Sontak Sumarsih dan ayah Wawan, Arief Priyadi, panik.

"Ada yang kena!" jerit Sumarsih, saat itu.

Hatinya kacau, bingung, dan khawatir. Ketika itu, Wawan masih berada di kampus tersebut. Sumarsih kemudian ngotot menuju ke Atma Jaya. Belum sempat berangkat, sekitar pukul 17.00 WIB, telepon rumah berdering.

Ignatius Sandyawan Sumardi atau Romo Sand, Sekretaris Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), tim tempat Wawan bergabung, memberi kabar duka. Romo Sandi menyebut bahwa Wawan tertembak.

Dari saksi mata yang merupakan temannya Wawan, Sumarsih kemudian tahu bahwa anaknya itu ditembak saat hendak menyelamatkan mahasiswa yang terlebih dulu terkena tembakan dari aparat.

"Waktu itu Wawan sudah mengibarkan kain putih sebagai tanda mau menyelamatkan seseorang padahal, tapi tetap saja ditembak," ungkap Sumarsih.

Meski Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, gelombang demonstrasi terus berjalan hingga November, jelang Sidang Istimewa MPR. Meski Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, gelombang demonstrasi terus berjalan hingga November, jelang Sidang Istimewa MPR. (AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONG)
Romo Sandy lantas menyarankan Sumarsih dan Arief sesegera mungkin menuju ke Rumah Sakit Jakarta (RSJ) untuk melihat kondisinya Wawan. Sumarsih mendapat kabar terburuk dalam hidupnya hari itu.

Saat tiba di RSJ usai menempuh jalan berliku akibat blokade aparat, Sumarsih dan Arief mencari keberadaan Wawan.

"Wawan di mana, mahasiswa Atma Jaya yang tertembak?" Tanya Sumarsih, kepada salah satu mahasiswa yang mengenakan jas alamater Unika Atma Jaya.

Dia lantas menemukan putranya yang terbujur kaku, tangan terlipat, dan mata terpejam: tak bernyawa. Sumarsih menemukan lubang kecil hitam di dada sebelah kiri, tepat di daerah jantung Wawan.

"Wawan kamu lapar ya? Ya ampun Wan, kamu tertembak ya?" ucapnya lirih, sembari meraba jasad anaknya.

Tak lama larut dalam kesedihan, Sumarsih sepakat dengan ide untuk melakukan autopsi terhadap jasad Wawan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo (RSCM), Jakarta.

Hasilnya, Wawan disebut tertembak dengan peluru tajam standar ABRI yang tepat mengenai jantung dan paru-paru sebelah kiri.

Hasil autopsi itu turut memperkuat dugaan bahwa kematian Wawan bukan akibat peluru nyasar, melainkan hasil bidikan mematikan aparat.

Wawan, Rompi Antipeluru, dan Sayur Asam Yang Belum (EBG)Presiden Joko Widodo saat kampanye pernah berjanji menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat dan merevisi peradilan militer. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Menagih Janji Jokowi

Wawan, berdasarkan data TRK, merupakan salah satu dari 17 korban yang gugur dalam peristiwa Semanggi I. Insiden itu terjadi saat ramainya aksi protes terhadap pelaksanaan Sidang Istimewa MPR, Mei 1998.

Massa demonstran menilai Bacharudin Jusuf Habibie gagal memenuhi tuntutan Reformasi. DPR/MPR dianggap hanya kelanjutan Orde Baru. Mereka juga terus menuntut penghapusan dwifungsi ABRI. Intinya, ada ketidakpercayaan pada Pemerintah.

Mahasiswa dan unsur masyarakat mulai turun ke jalan. Aksi itu dihadapi dengan pengamanan ketat ABRI, Brimob Polri, dan Pam Swakarsa.

Puncaknya, Jumat (13/5/1998) demonstran yang handak menuju gedung DPR/MPR terkepung dari dua arah di depan Kampus Unika Atma Jaya. Aksi damai dihadapi dengan peluru tajam. Korban berjatuhan dari berbagai latar belakang.

Sumarsih (66) mengaku kecewa dengan Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Padahal, di depan keluarga korban pelanggaran HAM pada saat kampanye mantan Gubernur DKI Jakarta itu pernah berjanji menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat dan merevisi peradilan militer.

Realitasnya jauh panggang dari api. Bahkan, sejumlah perwira yang diduga bertanggung jawab dalam peristiwa pelanggaran HAM berat masuk ke dalam pemerintahan Jokowi-JK.

"Pak Jokowi kan sudah bilang, diperlukan keberanian mengungkap pelanggaran HAM masa lalu. Nah, 3,5 tahun [selama menjadi Presiden] ini dia enggak ada tindakan konkret untuk menyelesaikan itu, karena dia enggak berani," ujar perempuan yang pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award Tahun 2004 tersebut.

Namun, Sumarsih tak menyerah. Ia akan terus menagih janji Jokowi, salah satunya, melalui aksi Kamisan, di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, yang digagasnya sejak 18 Januari 2007.

Dia mengaku bakal terus melanjutkan perjuangan Wawan.

"Saya terus berjuang untuk membongkar fakta kebenaran, melawan lupa, dan mencari keadilan sampai maut mencabut saya," kata Sumarsih. (arh/asa)