Merapi Kembali Meletus, Pengungsi Bertahan di Posko

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Kamis, 24/05/2018 07:59 WIB
Merapi Kembali Meletus, Pengungsi Bertahan di Posko Sejumlah warga mengungsi di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta karena Gunung Merapi terus erupsi. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah warga kelompok rentan bertahan di barak pengungsian setelah Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali mengeluarkan letusan freatik pada Kamis (24/5) dini hari sekitar pukul 02.56 WIB.

"Masih ada sejumlah warga kelompok rentan seperti lanjut usia dan balita yang tetap bertahan di barak pengungsian sejak beberapa hari terakhir hingga hari ini," kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, seperti dikutip dari Antara.

Warga kelompok rentan ini diungsikan ke barak-barak pengungsian seperti di balai desa dan rumah kepala dusun yang masuk pada jarak aman seperti di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, dan beberapa titik lainnya.


"Saat ini kebutuhan logistik para pengungsi ini masih tercukupi," ujarnya.

Letusan freatik Gunung Merapi pada Kamis dini hari tercatat amplitudo maksimum 60 mm, tinggi kolom 6.000 meter, arah barat.

"Letusan terdengar dari semua pos pengamatan Gunung Merapi," tutur Makwan.

Merapi secara pengamatan langsung maupun melalui CCTV saat ini tertutup kabut. Berdasarkan informasi dari BPPTKG Yogyakarta, kata Makwan status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih waspada.
Merapi Kembali Meletus, Pengungsi Bertahan di PoskoGunung Merapi saat ini berstatus waspada terkait erupsi freaktik yang terus terjadi. (ANTARA FOTO/Bambang)

Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa dengan meningkatkan kewaspadaan.

"Gunakan alat pelindung diri apabila beraktivitas di luar rumah berupa masker, kacamata, jaket, penutup kepala dan alas kaki, dan ikuti arahan petugas yang ada di lapangan bila terjadi situasi darurat, berhati-hati dalam berkendara dan utamakan tertib lalu lintas," katanya lagi.

Gunung Merapi telah mengeluarkan letusan freatik sejak Jumat (11/5) lalu. Namun peningkatan status dari normal menjadi waspada baru dilakukan pada Selasa (22/5).

Gelombang pengungsi mulai terpantau sejak Senin (21/5), disusul dengan pemberlakuan zona radius aman sejauh 3 km dari puncak Merapi.

Warga desa yang terpantau mengungsi pada 21 Mei lalu berasal dari Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari puncak Merapi.

Kepala Desa Tlogolele Widodo menyebutkan sebanyak 362 jiwa yang terdiri atas 35 balita, 12 lansia, 39 anak-anak, 41 remaja, dan 235 dewasa, mengungsi karena trauma dengan letusan Merapi 2010 lalu yang memakan banyak korban jiwa.

BPBD Kabupaten Sleman pun terus mengimbau masyarakat untuk mengikuti secara cermat berita dan informasi yang beredar terkait aktivitas Merapi.

"Ikuti perkembangan aktivitas Gunung Merapi melalui info resmi dari twitter: @BPPTKG, @StaklimJogja @pusdalopssleman; facebook: Pusdalops Bpbd Kabupaten Sleman; instagram: pusdalopssleman," katanya pula.