Ia, yang sudah menggeluti profesi sebagai pramuantar alias portir atau porter di Stasiun Pasar Senen sejak 1997, berisitirahat sejenak sembari menanti pemudik yang membutuhkan jasanya.
"Saya mulai di sini ketika [biaya] sekali makan masih Rp100. Sekarang berapa coba? Rp20 ribu," cetus pria asli Kebumen ini, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Stasiun Gambir Mulai Dipadati Pemudik |
Ia tidak mematok harga untuk jasanya. Keikhlasan penumpang dalam memberi adalah kunci rejekinya setiap hari. Biasanya, ia mendapat tiga sampai tujuh pelanggan dalam sehari. Tak ada uang tambahan dari stasiun.
Sejumlah porter sedang menanti pelanggan, di stasiun Pasar Senen, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan) |
Siswanto menuturkan pada musim mudik, dirinya bisa membawa pulang Rp100-150 ribu sehari. Namun itu tidaklah mudah, karena ia harus bersaing dengan 175 porter lainnya di Pasar Senen.
Ia, yang mengontrak rumah dengan keluarganya di Poncol Senen, Jakarta, ini menjelaskan porter biasanya bekerja dengan sistem giliran atau sif harian. Artinya, sehari masuk, kemudian keesokan harinya libur.
Selain itu, ada kewaspadaan tertentu yang harus ditaati ketika bekerja. Sebab, pekerjaan ini tetap punya risiko tinggi karena selalu dekat dengan kereta api.
Namun, ia melanjutkan, hal itu belum pernah terjadi di Senen. "Di sini aman-aman saja kok," imbuh dia.
Siswanto berharap kejadian serupa tak akan pernah terjadi di tempatnya bekerja.
Humas DAOP I KAI Edi Kuswoyo mengatakan setiap orang yang melamar menjadi porter harus berjanji menjaga kebersihan stasiun, ketertiban, dan bancik atau tangga naik turun kereta.
"Porter juga wajib menunggu kereta berhenti. Dilarang memasang tarif tinggi ke penumpang. Wajib membantu keamanan stasiun," kata Edi saat ditemui CNNINdonesia.com, Sabtu (9/6). (agr/arh)
Sejumlah porter sedang menanti pelanggan, di stasiun Pasar Senen, beberapa waktu lalu. (