Komjen Iriawan, 'Panglima' Baru Jabar dari Tanah Abang

Yugo Hindarto, CNN Indonesia | Senin, 18/06/2018 11:32 WIB
Komjen Iriawan, 'Panglima' Baru Jabar dari Tanah Abang Karir Komjen Iriawan di korps bhayangkara moncer sejak ia memimpin pengungkapan sejumlah kasus yang menyita perhatian masyarakat. (Foto: CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Bandung, CNN Indonesia -- Oktober 2016, Mochammad Iriawan yang saat itu berpangkat Inspektur Jenderal dilantik menjadi Kapolda Metro Jaya.

Ketika ditanya wartawan tentang jabatan Kapolda Metro Jaya, dia berkelakar. "Kenapa Jadi Kapolda Metro Jaya, mungkin karena titisan Tanah Abang," katanya.

Iriawan lahir di Tanah Abang, Jakarta Pusat, 31 Maret 1962. Karirnya di Polri terbilang moncer. Sejumlah jabatan penting di korps baju coklat pernah diembannya. Mulai dari Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, Kadiv Propam Polri, dan Asisten Operasional (Asops) Kapolri.


Sejak lepas dari jabatan Asops Kapolri, Iriawan dipindahtugaskan ke Lemhanas. DI lembaga itu Iriawan menjabat sebagai Sekretaris Utama.


Nama pria jebolan Akabri 1984 yang akrab disapa Iwan Bule itu kini kembali menjadi pembicaraan setelah diangkat menjadi Penjabat Gubernur Jawa Barat, Senin (18/6).

Penunjukan Iriawan menjadi polemik karena sebelumnya pada Maret 2018 pemerintah sempat membatalkan penunjukannya sebagai pengganti sementara Ahmad Heryawan (Aher) karena menuai protes. Namun, akhirnya pemerintah mengangkatnya kembali setelah masa jabatan Aher
berakhir.


Jawa Barat bukanlah wilayah baru bagi Iriawan. Dia pernah menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat selama sekitar dua tahun, mulai November 2013 hingga 2015.

Di Jawa Barat, Iriawan sempat menjadi buah bibir karena aksinya menampar anak buah di Lapang Gasibu Bandung. Ketika itu, dia ingin memastikan semua kesiapan personelnya, jelang pelaksanaan peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60.

Kejadian bermula ketika Iriawan mengecek satu demi satu kesiapan anggota termasuk sejumlah kendaraan patroli yang akan disiagakan untuk pengamanan nantinya.

Namun Iriawan agak sedikit berang ketika melihat ada dua anggota Satuan Sabhara yang dinilai lalai karena tidak membersihkan mobil.

Iriawan mengaku kesal melihat mobil patroli Satuan Sabhara yang kotor. Anggota yang sedang berdiri di dekat mobil Patroli itu langsung ditampar Iriawan.

Ketegasan dan keberanian Iriawan dikenal rekan-rekan satu angkatannya di Akabri. Dia mudah dikenali rekan-rekannya karena memiliki ciri khas, berambut pirang. Hal itulah yang akhirnya membuat dia dijuluki Iwan Bule. Kebetulan Iwan juga memiliki darah Belanda dari ibunya.

Karier Iriawan mulai moncer sejak ia mengungkap sejumlah kasus besar dan perkara yang menyita perhatian publik.
Komjen Iriawan, Putra Tanah Abang Berkarir MoncerKomjen Mochamad Iriawan ketika menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Tahun 2008 ketika menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iriawan pernah mengungkap kasus fenomenal pembunuhan Nazaruddin yang melibatkan Antasari Azhar yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dia juga sempat membongkar praktek prostitusi di sejumlah panti pijat melalui Operasi Bunga.

Sejak itu, karir Iriawan kian melejit. Tahun 2010, pangkat bintang satu disematkan ke pundak Iriawan. Dia kemudian dipercayasebagai Direktur Binmas Baharkam Polri.

Dua tahun berselang, Iriawan mendapatkan promosi sebagai Kapolda NTB.

Pada tahun 2016, Iriawan kembali dipercaya sebagai Kepala Divisi Propam Mabes Polri, sebelum akhirnya dipromosikan sebagai Kapolda Metro Jaya.

Di Polda Metro Jaya, Iriawan kembali menorehkan prestasi yang menyita perhatian publik, diantaranya, ketika memimpin personel kepolisian memburu komplotan perampok yang melarikan diri setelah melakukan pembunuhan sadis terhadap satu keluarga di kawasan Pulomas, Jakarta Timur.

Warga kala itu digegerkan dengan penemuan 11 otang yang disekap dan bertumpukan di dalam kamar mandi di sebuah rumah mewah di jalan Pulomas Utara. Berbekal CCTV dan kesaksian warga, komplotan perampok berhasil dibekuk polisi.

Di bawah Iriawan pula, Polda Metro membongkar investasi bodong Grup Pandawa yang menelan ratusan korban masyarakat, terutama warga Depok, Jawa Barat.

Namun, diantara sejumlah torehan prestasi yang diukirnya, Iriawan menyisakan satu kasus besar yang belum terselesaikan hingga saat ini, yakni kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

Iriawan menjabat sebagai Kapolda Metro hingga 2017, di tengah kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta kala itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.


Dia dimutasi ke Lemhannas. Di sana dia akan mengemban tugas pemerintahan di bidang pendidikan pimpinan tingkat nasional, pengkajian strategis ketahanan nasional dan pemantapan nilai-nilai kebangsaan.

Ketika dimutasi ke Lemhanas, Iriawan mengatakan sebagai polisi dia siap untuk dipindahkan ke mana saja.

"Saya Bhayangkara sejati. Apapun yang diberikan tugas pada pimpinan tentunya ini seizin kuasa Allah SWT, saya akan lakukan apapun itu," katanya.

(ugo/asa)




BACA JUGA