Banser Berjaga di Kantor PBNU Tunggu Demo Terkait Gus Yahya

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Senin, 25/06/2018 12:25 WIB
Banser Berjaga di Kantor PBNU Tunggu Demo Terkait Gus Yahya Hingga saat ini massa pengunjuk rasa yang hendak memprotes kunjungan Katib Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf, ke Israel belum terlihat. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama dan puluhan anggota kepolisian dari Polda Metro Jaya terlihat berjaga-jaga di gedung Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya, Jakarta pusat, Senin (25/6).

Mereka hadir untuk menjaga kantor PBNU terkait rencana unjuk rasa akan dilakulan Kelompok massa yang mengatasnamakan Front Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia Pro Palestina.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com sejak pagi hingga pukul 11.00 WIB di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (25/6), belum ada terlihat massa demonstran yang berkumpul.



Akan tetapi sejumlah aparat keamanan dan Banser sudah terlihat berjaga-jaga di seputaran pintu gerbang gedung PBNU.

Selain itu, terlihat setidaknya ada satu mobil dari Polda Metro Jaya yang dipersiapkan sudah terpakir di depan Gedung PBNU.

Salah satu anggota Banser, Sathori, mengatakan telah berjaga di PBNU sejak pukul 08.00 WIB untuk mengantisipasi aksi tersebut.

"Kita belum tahu aksinya kapan. Tapi kita dari jam 08.00 pagi sudah disuruh standby di sini, sampai aksinya selesai," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Kelompok Front Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia Pro Palestina hendak menggelar aksi protes, terkait kehadiran anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) sekaligus Katib Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf atau dikenal Gus Yahya, dalam konferensi tahunan forum global American Jewish Committee di Israel beberapa waktu lalu.

Yahya Cholil Staquf juga sempat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netayahu, di Yerusalem, pada 14 Juni lalu.


Sejumlah pihak hingga Majelis Ulama Indonesia menyayangkan sikap Gus Yahya yang mau bertandang ke Israel dan menemui Netanyahu. Dia dianggap tidak peka terhadap penderitaan rakyat Palestina. Namun, Yahya menyatakan kunjungan itu justru dilakukan buat merintis perdamaian di Timur Tengah dan mengubah belum pola pikir warga Israel dan Palestina. (ayp/asa)