Tjahjo mengutarakan hal tersebut saat apel bersama pegawai negeri sipil Kemendagri dalam rangka memperingati Bulan Bakti Pancasila di Monumen Nasional, Jakarta, Jumat (29/6).
"Sempat di era-era dulu ada yang memanipulasi sejarah Bung Karno. Tidak ada artinya sebenarnya," tutur Tjahjo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia hanya mengatakan bahwa setiap negara pasti punya Bapak Bangsa yang memproklamirkan kemerdekaan. Ia juga menyebut bangsa yang besar sepatutnya menghormati jasa para pahlawan atau Bapak Bangsa, bukan sebaliknya.
Tjahjo kemudian menyampaikan bahwa Juni adalah bulan yang patut diperingati sebagai bulan lahir dan wafatnya Soekarno. Selain itu, Pancasila juga lahir di Bulan Juni.
Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dan wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta lalu dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Pancasila juga pertama kali dicetuskan oleh Soekarno pada 1 Juni dalam rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
"Sembari kita meluruskan tapak-tapak sejarah dengan benar, tanpa ada manipulasi-manipulasi yang ada," kata Tjahjo.
Dalam rangka memperingati bulan Soekarno, Tjahjo mengaku Kemendagri telah memugar dan membersihkan sejumlah tempat yang pernah disinggahi Bung Karno di masa silam.
Misalnya adalah rumah yang ditempati Soekarno di Ende, Bengkulu, Pulau Bangka, dan Sumatera Utara. Tjahjo mengklaim kegiatan tersebut dilakukan agar riwayat sang proklamator di masa lalu tetap terpelihara murni seperti aslinya.
"Ini semata-mata kita ingin meluruskan sejarah perjuangan bangsa. Meluruskan tapak-tapak sejarah bangsa ini dengan benar, sehingga genarasi yang akan datang dapat mengenang ini dengan baik," tutur Tjahjo.
"Itulah tujuan kita memperingati bulan Bung Karno," kata Tjahjo. (end)