Survei LSI: Posisi Jokowi Belum Aman

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 17:26 WIB
Survei LSI: Posisi Jokowi Belum Aman Elektabilitas Joko Widodo meningkat dibandingkan Mei 2018. Namun sebagai petahana, posisi Jokowi dinilai belum aman. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Elektabilitas Joko Widodo meningkat sekitar 3,3 persen dibandingkan dengan elektabilitas sebelum pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Serentak yang digelar 27 Juni 2018. Berdasarkan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA elektabilitas Jokowi pada Mei 2018 46 persen, dan Juli 2018 meningkat menjadi 49,30 persen.

Direktur LSI Denny JA Adjie Al-Farabi mengatakan meski elektabilitas Jokowi saat ini mencapai 49,30 persen, tapi Jokowi belum berada pada posisi yang aman.

"Meski mengalami tren kenaikan, sebagai petahana penting dicatat bahwa elektabilitas Jokowi masih di bawah 50 persen," kata Adjie pada konferensi pers di kantornya, Selasa (10/7).


Survei LSI Denny JA digelar 28 Juni-5 Juli 2018 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Metode survei adalah multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error kurang lebih 2,9 persen. Survei dilaksanakan di 33 provinsi di Indonesia.

Kata Adjie, masih banyak pemilih yang akan memilih capres lain, dan sebagian belum menentukan pilihan.

Di sisi lain, elektabilitas lawan Jokowi cenderung stagnan. Pada Mei 2018, survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa elektabilitas gabungan semua capres non-Jokowi sebesar 44,7 persen. Sementara survei terbaru, elektabilitas mereka di angka 45,2 persen.

"Nama-nama seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, dan sejumlah nama lain hasil elektabilitasnya kami kumpulkan. Tidak terjadi kenaikan yang signifikan," ujar Adjie.
Survei menemukan bahwa mereka yang belum menentukan pilihan (undecided voters) cenderung mengecil. Pada Mei 2018, mereka yang masih belum menentukan pilihan sebesar 9,30 persen. Kini, undecided voters tersisa 5,50 persen. Meski demikian, jika undecided voters ditambahkan dengan pemilih yang masih ragu (soft supporter) dari kubu Jokowi maupun kubu non Jokowi, maka total pemilih yang masih bisa dipengaruhi adalah 37,5 persen.

Sebelumnya Lembaga riset Alvara Research Center merilis hasil survei elektabilitas Capres pada Mei 2018. Nama Joko Widodo masih bertahan sebagai pemegang elektabilitas tertinggi, dan stabil di angka 46 persen.

#2019GantiPresiden Kian Populer

Adjie mengatakan langkah Jokowi menuju Pilpres 2019 akan berat. Ada sejumlah faktor yang akan menjadi tantangan berat Jokowi, salah satunya gerakan #2019GantiPresiden yang kian populer.

"Kampanye lawan Jokowi melaui simbolisasi #2019GantiPresiden makin makin disukai," kata Adjie.

Survei LSI Denny JA pada Mei 2018 menemukan bahwa meski saat itu baru sebulan dikampanyekan, isu #2019GantiPresiden telah dikenal luas oleh separuh pemilih. Saat itu, mereka yang pernah mendengar #2019GantiPresiden adalah sebesar 50,80 persen.

Kini, #2019GantiPresiden yang dicanangkan oleh Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu pun semakin populer. Mereka yang mengaku pernah mendengar adalah sebesar 60,50 persen.

"Menggaungnya isu ini di dua Pilkada yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah, berkontribusi besar terhadap popularitas tagar tersebut," kata Adjie.

Selain makin dikenal, Adji menyebut #2019GantiPresiden pun makin dan diterima.

Berdasarkan survei terbaru LSI Denny JA itu, sebesar 54,40 persen responden mengaku suka dengan kampanye #2019GantiPresiden.

"Persentase ini naik jika dibandingkan dengan survei sebelumnya pada Mei 2018. Saat itu, mereka yang menyatakan suka dengan kampanye ganti presiden sebesar 49,80 persen," kata Adjie.

Tantangan kedua untuk Jokowi, kata Adjie, jumlah pemilih yang hampir mustahil memilih Jokowi juga cukup besar.

Dari surveinya, para militan (strong supporters) yang memilih capres lainnya sebesar 30,5 persen. Padahal, kampanye pilpres belum dimulai dan lawan Jokowi pun belum melakukan kampanye secara masif.

"Artinya, peluang para penantang untuk meraih dukungan lebih besar masih terbuka," ujar Adjie.

Tantangan berikut, pemilih loyal atau strong supporters Jokowi hanya sebesar 32 persen dari total mereka yang memilih petahana tersebut sebesar 49,3 0 persen.

Artinya, kata Adjie, hanya 32 persen itulah yang menyatakan tak akan mengubah pilihannya hingga hari H pencoblosan Pilpres 2019. Sementara sebesar 17,3 persen lainnya adalah mereka yang saat ini memilih Jokowi, tetapi masih bisa mengubah pilihannya ke capres Iain.

"Walaupun elektabilitas Jokowi masih teratas, tetapi tiga catatan ini bisa menjadi batu sandungannya," kata Adjie.
(ugo/ugo)