Kapal Joko Berek di Jember Tenggelam Akibat Ombak Tinggi

Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 17:05 WIB
Kapal Joko Berek di Jember Tenggelam Akibat Ombak Tinggi Ilustrasi gelombang tinggi. (WikiImages/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa penyebab tenggalamnya kapal motor bernama 'Joko Berek' di perairan Jember, Jawa Timur, adalah hantaman gelombang tinggi. Hingga pukul 14.00 WIB, korban tewas mencapai enam orang.

Kapal berawak 21 orang itu terkena musibah usai kembali dari pencarian ikan, di perairan Pelawangan Puger, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (18/7/2018) pukul 08.15 WIB.

"Kapal nelayan Joko Berek yang berawak 21 orang dihantam gelombang tinggi saat hendak merapat ke pantai sehingga tenggelam. Akibatnya, delapan orang awak kapal selamat, enam orang awak kapal meninggal dunia dan tujuh orang awak kapal hilang," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan tertulisnya, Kamis (19/7).


Menurutnya, kapal Joko Berek itu bermaksud untuk pulang dari melaut, sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu cuaca cerah. Memasuki perairan Pelawangan Puger 15 menit kemudian, kapal itu tak mampu melaju akibat gelombang laut. Hal itu membuat kapal terbalik saat menuju daratan.



"Karena kondisi gelombang laut yang tinggi dan kapal motor tidak sanggup melaju membuat kapal terbalik di jalur masuk," imbuh Sutopo.

Pada pukul 08.30 WIB, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) mendapat laporan dari warga soal kecelakaan laut di pantai Pancer Puger. Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) kemudian bergegas ke lokasi.

Dari pendataan BNPB, korban yang tewas mencapai enam orang, termasuk nahkoda. Sebanyak tujuh orang lainnya hilang. Awak kapal yang selamat mencapai delapan orang.

Korban meninggal itu antara lain Cecep (L/45) asal Puger Kulon, Hasan (L/45) asal Balung, Soim (P/65) asal Puger Kulon, Ulum (P/30) asal Puger Kulon, Hadi (L/28) asal Puger Kulon, dan Dirman (L/50) asal Puger Kulon (Nahkoda).



"[Tim] melakukan SAR pencarian korban dikoordinir oleh Basarnas," imbuh Sutopo.

Dia juga meminta masyarakat dan nelayan untuk berhati-hati untuk beraktivitas di laut dan pantai. Jika kondisi tidak memungkinkan, nelayan dan wisatawan diminta mengurangi aktivitas di laut untuk sementara waktu.

"Saat ini gelombang tinggi di sepanjang Pantai Selatan Jawa. Selalu cermati prediksi cuaca dan tinggi gelombang dari BMKG," tutupnya.

(sur)