Bangunan di Pesisir Selatan Yogyakarta Rusak Dihantam Ombak

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 09:56 WIB
Gelombang tinggi menerjang pesisir selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta dari semalam. Hari ini ketinggian gelombang diperkirakan 5-7 meter menghantam pesisir. Ilustrasi gelombang tinggi laut. (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang tinggi menerjang pesisir selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta dari semalam.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) diperkirakan 5-7 meter ketinggian gelombang menghantam wilayah pesisir sana pada hari ini.

"Masyarakat diimbau hati-hati dan waspada. Jangan melakukan aktivitas di sekitar pantai," ujar Sutopo dikutip dari akun Twitter miliknya.



Beberapa di antara wilayah yang diterjang gelombang pasang adalah di Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Berdasarkan laporan dari BPBD DIY gelombang pasang yang mencapai pesisir itu merusak sejumlah bangunan terutama yang berada di dekat bibir laut. Beberapa di antaranya adalah di Pantai Nguyahan, pantai Sepanjang, dan pantai Ngobaran.

Di pantai Nguyahan, pos SAR yang dibangun di kawasan itu pun rusak akibat hantaman gelombang tinggi. Sementara itu, di Pantai Ngandong sebanyak 1 penginapan roboh, 1 warung hanyut terbawa ke tengah laut, dan sekitar 8 gazebo hancur tergulung ombak.



Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika DIY memprediksi tinggi gelombang 3-7 meter itu terjadi pada 25-30 Juli 2018. Tak hanya di wilayah DIY, gelombang tinggi pun terjadi di hampir seluruh perairan di wilayah Selatan pulau Jawa, termasuk di daerah Pacitan, Jawa Timur.

Sementara di Lampung, seperti dikutip dari Antara, BMKG memberikan peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan barat Lampung yang juga diprediksi berakhir hingga akhir Juli nanti. Ketinggian gelombang di perairan tersebut diperkirakan di kisaran 6-7 meter.

Kondisi ini sangat berbahaya tidak hanya untuk nelayan, namun gelombang setinggi itu mampu merusak kapal barang yang ukurannya jauh lebih besar dari armada nelayan.

BMKG mengingatkan kewaspadan itu diperlukan agar tidak terjadi banyak kerusakan maupun korban jiwa akibat kondisi gelombang tinggi tersebut, menyusul sebelumnya ada seorang nelayan terseret ombak dan meninggal di perairan Pesisir Barat, Lampung.

Kepala UPT Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Theodorus Agus Heru Riyanto yang juga Koordinator BMKG Provinsi Lampung menjelaskan, fenomena banjir rob di wilayah perairan sekitar Krui, Pesisir Barat ini biasa terjadi mulai pukul 10.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 15.00 WIB dan kemudian perlahan surut.

Bahkan, jembatan penghubung di wilayah ini sudah sering sekali hanyut karena dihantam banjir rob setiap harinya. Apalagi posisinya berhadapan langsung dengan Samudra Hindia yang gelombang di sekitar wilayah tersebut memang lebih tinggi.

"Perlu ada tindakan lebih lanjut untuk pembangunan jembatan penghubung ini, karena jika dibangun seadanya akan hanyut karena dihantam gelombang laut setiap hari," katanya dikutip dari Antara menyoal dampak ombak yang tinggi.