Warga Kulon Progo Tantang Buldoser Lawan Penggusuran

Wishnugroho Akbar & Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 18:28 WIB
Sebanyak 32 rumah warga yang tersisa sudah rata dengan tanah untuk proyek Bandara Kulon Progo. Namun, perlawanan warga tak berakhir. Alat berat merobohkan sebuah rumah di Kulon Progo, DIY, beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Hendrawan Setiawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 32 rumah warga yang tersisa sudah diratakan dengan tanah demi pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport atau Bandara Internasional Kulon Progo. Namun, warga tak menyerah untuk melawan dan tetap menilai punya hak atas tanah itu.

"Perobohan rumah bukan akhir perjuangan. Secara hukum tanah itu hak milik warga. [Penggusuran] itu tidak sah secara hukum," ujar Sofyan, salah satu warga penolak penggusuran tersebut, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (25/7).

Diketahui, penggusuran sebanyak 32 rumah itu sudah dilakukan pada Kamis dan Jumat (19-20/7). Yang tersisa hanya masjid. Di lokasi itulah warga penolak Bandara Kulon Progo berkumpul.


Meski rumah mereka habis, lanjut Sofyan, warga Temon, Kulon Progo, tetap melakukan perlawanan hingga hari ini. Kali ini, pihak AP I dan aparat gabungan kembali datang untuk melakukan pembersihan lahan pascapenggusuran.

"Tahap perobohan rumah semua sudah. Sekarang pembersihannya, tapi tetap dikawal aparat," ucap dia. Pihaknya kini tetap berkumpul di masjid untuk merencakanak perlawanan sambil didampingi pihak kuasa hukum.



Diunggah oleh akun Facebook Jogja Darurat Agararia, pada pukul 10.30 WIB warga melakukan perlawanan terhadap alat berat yang hendak meratakan tanah. Salah satunya bahkan menaiki buldozer yang tengah berjalan pelan. Sejumlah aparat menariknya.

"Ora ana wong sing wedi karo bedhil saiki. Dong ora? Dikiro wedi, ora wedi! (Tidak ada orang yang takut sama pistol sekarang. Paham tidak? Tidak takut!)," cetus seorang ibu penolak penggusuran.

"Kae diundurke kae. Aku njaluk tulung kae diundurke nek aku dikon bali. ([Alat berat] itu dimundurkan. Saya minta tolong itu dimundurkan kalau saya disuruh pulang)," lanjutnya.

"Mundur terus maju maksud e? (Mundur lalu maju maksudnya?)," timpal seorang aparat kepolisian.

"Mundur bali (Mundur pulang)," ujar ibu tersebut.

"Nabrak koe kui ben modhar (Nabrak kamu [aparat] itu biar mati)," cetus seorang warga lainnya.

Warga Diinjak

Sofyan menambahkan bahwa penggusuran pada Kamis dan Jumat (19-20/7) banyak diwarnai kekerasan oleh aparat terhadap warga.

"(Jumlah) korban luka pastinya kurang tahu. Kemarin ada yang ditonjok oknum polwan," ungkap dia.

Warga berjalan di reruntuhan puing rumah yang dirobohkan untuk pembangunan Bandara Kulon Progo.Warga berjalan di reruntuhan puing rumah yang dirobohkan untuk pembangunan Bandara Kulon Progo. (CNN Indonesia/Yugo Hindarto)
Ketika itu, sebanyak 32 rumah sudah dirobohkan oleh pihak AP I dibantu aparat gabungan dari TNI-Polri. Warga saat itu juga melakukan perlawanan. Misalnya, seorang ibu melakukan salat di depan barisan aparat.

Pak Sumiyo, ketua RT 12/RW 06, Siderejo, Desa Glagah, Kecamatan Temon, bahkan mengaku diinjak punggungnya oleh aparat gabungan saat hendak mempertahankan rumahnya. Bahkan, dia sempat naik ke atap rumahnya. Aparat kemudian mengejarnya.

"[Aparat] mau nangkep supaya saya turun [dari atap]," ungkapnya. "Terus diinjak punggung saya. Kaki diiket jadi satu. Diiket sama polisi dan Satpol PP," imbuh dia, dalam wawancara yang diunggah dalam akun Facebook Jogja Darurat Agraria.

Sofyan melanjutkan aparat gabungan kembali datang pada Rabu (25/7). Tujuannya, pembersihan lahan yang sudah digusur.

Respons Bupati

Dihubungi terpisah, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo membenarkan ada pembersihan lahan untuk kepentingan pembangunan Bandara Kulon Progo. Menurutnya, pihak yang bertanggung jawab adalah Angkasa Pura I selaku pelaksana proyek pembangunan bandara.

"Ini, kan, proses tahapan yang sudah dilakukan sejak lama. Ini ranahnya API, bukan Pemda karena ini sudah menjadi proyek nasional yang kemudian sama nasional diserahkan pada API dan API menindaklanjuti untuk mengakuisisi lahan," kata dia.

Kuburan pun digusur demi pembangunan Bandara Internasional di Kulon Progo, Yogyakarta.Kuburan pun digusur demi pembangunan Bandara Internasional di Kulon Progo, Yogyakarta. (CNN Indonesia/Yugo Hindarto)
Hasto menuturkan pembersihan dilakukan terhadap 32 rumah yang terdiri dari 37 kepala keluarga. Eksekusi lahan itu, Hasto mengklaim dilakukan sesuai prosedur.

Pihak AP I disebutnya telah melakukan sosialisasi terlebih dulu. API juga sudah memberikan uang kepada warga terdampak dengan menitipkan uang itu ke pengadilan atau konsinyasi.

"Jadi memang sudah melewati tahapan-tahapan terlebih dulu," ujar Hasto.

Hasto melanjutkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah terhadap warga yang tergusur.

"Kami siapkan lahan untuk mereka yang mau pindah, atau rumah sewa. Jadi itu tugas kami," kata Hasto.

Kericuhan saat penggusuran lahan ini berulang kali terjadi. Upaya ini dilakukan sejak 27 November oleh pihak AP I dengan dikawal aparat. Sebab, masih ada puluhan aset, baik rumah maupun lahan yang dimiliki warga penolak bandara.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, di Bali, Sabtu (24/2).Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, di Bali, Sabtu (24/2). (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Pihak AP I menyebut upaya pengosongan rumah itu punya dasar hukum putusan Pengadilan Negeri Wates tentang ganti rugi rumah milik warga melalui proses konsinyasi. Sementara, warga memandang konsinyasi tidak sah karena harus mendapat persetujuan warga.

(asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK