Ratusan Pendaki Masih Terjebak di Gunung Rinjani

Agus Triyono, CNN Indonesia | Minggu, 29/07/2018 17:46 WIB
Ratusan Pendaki Masih Terjebak di Gunung Rinjani Gempa yang mengguncang Lombok meratakan rumah warga Sembalun di kaki Gunung Rinjani. (Courtesy of Santri Dpi/Social Media via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan pendaki Gunung Rinjani diperkirakan masih terjebak di sekitar Danau Segara Anak akibat gempa 6,4 Skala Richter yang melanda Pulau Lombok dan Sumbawa Minggu (29/7) pagi. 

Kepala SAR Mataram, Lombok, I Nyoman Sidakarya mengatakan saat ini terdata sekitar 266 orang masih terjebak di Gunung Rinjani.

"Berdasarkan hasil koordinasi dengan sejumlah pihak, kami mencatat masih ada sekitar 266 orang belum turun dari Rinjani dari 826 yang mendaki," kata Sidakarya kepada CNN Indonesia TV.


Seorang pendaki yang berhasil keluar dari Gunung Rinjani Minggu sore Uspi menyatakan bahwa ratusan pendaki tersebut masih belum bisa keluar dari gunung.

"Saat kami di atas ada 1.000-an pendaki yang di sana, dan ada ratusan yang masih belum keluar," katanya seperti dikutip dari Antara.
 
Pria yang juga berprofesi sebagai porter tersebut mengatakan bahwa jalur pintu pendakian baik melalui Pintu Senaru yang berada di Lombok Utara dan Pntu Sembalun di Lombok Timur sudah tidak bisa dilewati.

 
Jalur tersebut sudah tertutup oleh longsor dan bongkahan batu.
 
"Jadi kalau dari danau, tidak bisa lewat lagi," katanya.
 
Uspi mengatakan bahwa saat gempa terjadi, dirinya bersama dengan para pendaki lainnya sedang menuju puncak Rinjani. Namun menjelang puncak, ia dan teman-temannya dikejutkan oleh getaran hebat.
 
Getaran tersebut membuat pendaki panik. Pendaki memutuskan untuk mengakhiri pendakian dan turun gunung.



Sementara, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono mengatakan, jumlah pendaki yang masih berada di Gunung Rinjani hingga pukul 15.00 Wita sebanyak 333 pendaki.

"Kami minta mereka ambil posisi yang aman saja dulu karena jalan tertutup oleh longsor," ujarnya.

TNGR, kata dia, telah berkoordinasi dengan Basarnas Mataram, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan TNI/Polri untuk melakukan evakuasi. Hingga saat ini, Balai TNGR telah menerjunkan tiga personel untuk melakukan penjajakan evakuasi.

Sebagai antisipasi, seluruh jalur pendakian ditutup untuk sementara waktu sejak pagi hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek keselamatan para pendaki.

Sudiyono menyebutkan, satu pendaki WNI dilaporkan meninggal dunia. Namun, ia belum mengetahui identitas lengkap korban meninggal. "Posisi korban masih di atas sedang kita pikirkan upaya evakuasinya," katanya.

(Antara)