Kapitra: Habieb Rizieq Tak Boleh Tolak Amanat Nyapres

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Minggu, 29/07/2018 23:37 WIB
Kapitra menyatakan Rizieq Shihab tak boleh didorong menjadi cawapres, melainkan menjadi presiden Republik Indonesia. Atas dasar itu ia mengkritik ijtima ulama. Pertemuan Rizieq Shihab dan Kapitra Ampera di Arab Saudi beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapitra Ampera menyatakan Rizieq Shihab (HRS) sebagai pemimpin umat Islam tak boleh menolak amanat rakyat untuk menjadi pemimpin negara.

"Ulama tidak boleh menolak ketika umat meminta dirinya untuk menjadi pemimpin. Ulama itu memang riskan, tidak biasa, meminta jabatan..., tetapi ketika jabatan itu diamanatkan oleh umat, maka dia tidak boleh menolak," ujar Kapitra dalam konferensi pers yang digelarnya di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Minggu (29/7).

 

Kapitra menyatakan suara yang meminta pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu memimpin negara sangat besar, terutama yang datang dari alumni aksi bela Islam di Jakarta. Lebih lanjut, Kapitra mengklaim peserta yang mengikuti Ijtima Ulama di Jakarta tak sepenuhnya sepakat pada rekomendasi mendukung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden dalam Pilpres 2019.


Kapitra: Habieb Rizieq Tak Boleh Tolak Amanat NyapresKapitra Ampera. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
"Lalu dari Aceh, Medan, Jambi, Padang, Riau, sampe NTB, Palu tadi histeris malah. Jadi kita mendengar ini ya sama yang kita rasakan sama ada kepedihan gitu," kata dia.

Atas dasar itu, Kapitra menganggap rekomendasi yang disebut telah mendapat persetujuan dari Rizieq Shihab itu tak benar. Ia mengatakan imam besar FPI itu hanya diberi laporan, dan tidak menyarankan secara langsung untuk mendukung siapa yang direkomendasikan.


"Mereka itu memutuskan lalu lapor ke HRS (Habib Rizieq Shihab), setahu saya gitu... Saya tahu yang mimpin Zaitul Asmin rapat plenonya," lanjutnya.


Dia juga menganggap sebuah penghinaan apabila HRS nantinya justru dicalonkan sebagai cawapres dari Prabowo. Kapitra menegaskan tak ada salahnya Indonesia memiliki pemimpin dari kaum ulama untuk membuktikan kepemimpinan yang damai.

"Ya nggak bisa dong itu penghinaan terhadap ulama. HRS presidennya kenapa? Ya sudahlah kita kan sudah dipimpin oleh tujuh presiden itu kan nasionalis semua, sesekali dong umat Islam sebagai mayoritas warga negara ini memimpin," jelasnya.


Sebagai protes atas rekomendasi Itjima, Kapitra akan melakukan konsolidasi dengan pihak yang satu suara dengannya demi menggelar aksi untuk membatalkan rekomendasi Itjima. Mengenai kapan aksi itu digelar, Kapitra menjawab, "Saya konsolidasi dulu 1-2 hari ini. Tadi sebenarnya udah mau kesini segera besok konsolidasi." (kid/kid)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK