BMKG: Kenaikan Permukaan Air Laut di Lombok Telah Menurun

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 05/08/2018 22:01 WIB
BMKG: Kenaikan Permukaan Air Laut di Lombok Telah Menurun Ilustrasi pemantauan gempa bumi dan tsunami. (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa kenaikan air laut akibat gempa Lombok, Minggu (5/8), sempat tercatat. Namun kenaikan permukaan air laut tersebut telah menurun.

"Kami ada sensor yang dipasang di pantai, baik di Bali, Lombok, dan Sumbawa. Sudah ada kenaikan. Namun itu kan gradual. Dan kini sudah turun kembali," kata Dwikorita dalam jumpa media di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (5/8).

"Itu [penurunan permukaan air laut] tanda kalau [tsunami] sudah lewat," lanjutnya.


"[Peluang] ke Jawa ada, tapi sangat kecil. Tadi ada kenaikan di Bali, tapi hanya dua sentimeter di Benoa,"

Dwikorita juga menyatakan bahwa jumlah gempa susulan di titik episentrum gempa telah melemah. BMKG sendiri mencatat ada 27 gempa susulan usai gempa utama sebesar 7 SR terjadi.



Namun Dwikorita memastikan BMKG tetap memantau daerah pusat gempa dan sekitarnya bila ada perkembangan terbaru. "Seandainya mendesak dan penting akan segera kami sampaikan," katanya.

Dwikorita mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekat atau menghuni bangunan yang sudah retak atau rusak akibat gempa 7 SR.

Dwikorita sebelumnya mengatakan kepada CNN Indonesia TV bahwa tsunami telah terjadi pada pukul 18.48 WIB setinggi 13 sentimeter dan 10 sentimeter.

Ia menyampaikan tsunami telah terjadi di sejumlah wilayah, dengan ketinggian 10-13 centimeter. Dia mengimbau warga agar tidak perlu khawatir.

"Seperti yang kami perhitungkan, kami kira tsunami terjadi antara 0-50 sentimeter, jadi levelnya waspada. Level ini yang paling rendah," kata Dwikorita.

"Tadi terjadi 13,5 sentimeter. Jadi enggak perlu dikhawatirkan [lagi]," lanjutnya. (end)