"Anak saya terluka parah di bagian kepala," kata Khairul, ayah dari korban meninggal dunia yang ditemui di sekiar Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram, seperti dikutip dari Antara.
Khairul mengatakan anaknya yang baru beberapa waktu duduk di kelas 1 MTs tertimpa reruntuhan bangunan saat sedang mengaji. Khairul sendiri mengangkut anaknya menggunakan mobil warga ke RSAD Mataram dari pondok pesantren yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pasien RSAD Mataram bahkan sempat diungsikan ke jalan raya dan lapangan kantor Gubernur NTB yang tidak jauh dari rumah sakit, saat gempa terjadi.
Sebagian orang juga memilih menuju dataran tinggi seperti perbukitan untuk mengantisipasi terjadi tsunami pasca gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, namun beberapa waktu kemudian, berdasarkan perkembangan terbaru, menyatakan peringatan tsunami itu berakhir.
"Itu [penurunan permukaan air laut] tanda kalau [tsunami] sudah lewat," lanjutnya. (wis)