Turis Italia Bertahan dengan Kerupuk di Bukit Senggigi Lombok

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Senin, 06/08/2018 11:02 WIB
Turis Italia Bertahan dengan Kerupuk di Bukit Senggigi Lombok Sejumlah wisatawan asing pendaki Gunung Rinjani berhasil turun saat terjadi gempa di pintu pendakian Bawaq Nau, Sembalun, Lombok Timur, NTB, Minggu (29/7). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Marcello (22), wisatawan asal Italia, tak menyangka kedatangannya yang pertama kali ke Indonesia akan disambut gempa bumi dengan kekuatan 7 Skala Richter (SR), di NTB, Minggu (5/8). Ia kemudian bertahan di perbukitan Senggigi dengan bekal seadanya demi menghindari Tsunami.

"Semua orang berlarian, menghindari dinding-dinding. Semua ketakutan. Kami baru kali pertama ke sini, tidak menyangka akan ada hal seperti ini dalam liburan kami," katanya, kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Senin (6/8) pagi.

"Tidak ada terluka dalam rombongan kami. Gempa ini terjadi dan kami tidak bisa menghindarinya. Kebetulan terjadi ketika kami sedang liburan," Marcello menambahkan.


Menurut Ahnaf Fathi Hidayat, WNI yang menjadi rekan kuliah Marcello selama di Belanda, goncangan dahsyat mulai dirasakan sekitar pukul 18.40 WITA.

Ketika itu, ia dan Marcello, serta rekannya dari Spanyol, Bea, baru saja pulang ke Hotel Sendok, NTB, setelah seharian jalan-jalan di daerah Senggigi.

"Kami sedang bersantai di pinggir kolam renang ketika itu, tiba-tiba seperti ada suara pesawat mau lepas landas. Lalu tanah bergoncang dengan sangat kencang, sampai kami yang sedang duduk harus menjaga keseimbangan. Suaranya [gempa] besar sekali," tutur Ahnaf.

Kios yang temboknya roboh pascagempa bumi di Dusun Lendang Bajur, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (6/8). Kios yang temboknya roboh pascagempa bumi di Dusun Lendang Bajur, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Senin (6/8). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
"Tiba-tiba juga perabotan jatuh, orang-orang berteriak dan panik, air kolam renang tumpah. Kami kaget, kami tidak tahu harus bagaimana. Kemudian kami mencoba keluar dari area kolam renang pelan-pelan, sambil melindungi kepala kami seadanya dengan tangan," ujarnya kembali.

Gempa kemudian terasa selama sekitar 10 detik saat mereka bersantai. Ia sempat mengira gempa berasal dari Gunung Rinjani karena sempat mendengar soal kondisi vulkanik pascagempa.

Ahnaf dan kawan-kawan kemudian berjalan ke luar hotel dengan menghindari bangunan tinggi.

"Anjing-anjing, serangga, dan kodok sangat berisik. Anjing mengonggong tak karuan, binatang-binatang Itu mengarah ke pantai. Itu mengerikan, saya diam saja dan berdoa," sambung dia.

"Setelah itu kami diam di depan hotel dalam suasana yang gelap karena mati lampu total, gelap sekali tapi jalanan depan hotel ramai. Saya dengar ada ibu-ibu berteriak mencari suaminya, klakson mobil-mobil. Dan kami mendengar juga ada ancaman tsunami," tuturnya lagi.

Pasien dievakuasi ke parkiran rumah sakit Kota Mataram pascagempa bumi berkekuatan 7 SR di Mataram, NTB, (5/8).Pasien RSUD Mataram, NTB, dievakuasi ke parkiran rumah sakit, Minggu (5/8). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Menuju Bukit

Karena mendengar kabar ada ancaman tsunami, mereka lalu memutuskan untuk pergi ke Bukit Senggigi. Beruntung, ia bertemu dengan sebuah keluarga yang berasal dari Selandia Baru yang bersedia memberikan tumpangan ke bukit.

"Kebetulan keluarga itu punya villa di bukit. Jadi kami menumpang kendaraan mereka. Total ada 15 orang di villa itu, kami menetap di sana untuk sementara," kata Ahnaf.

Pascagempa, Ahnaf mengaku susah mencari makanan lantaran warung dan rumah warga hancur.

"Di hotel-hotel juga tidak ada makanan. Akhirnya kami menemukan warung yang masih utuh tapi tidak ada penjualnya. Kami ambil kerupuk beberapa bungkus, air mineral, dan meninggalkan uang Rp50 ribu," katanya menambahkan.

Dengan kerupuk dan air mineral itu ketiganya bertahan hingga pagi hari. Kini mereka sudah turun bukit dan mengambil barang-barang mereka di hotel untuk segera melanjutkan perjalanan ke Bali.

Presiden Joko Widodo (tengah), memastikan akan mengganti kerusakan bangunan akibat gempa NTB, di TMII, Jakarta, Senin (6/8)Presiden Joko Widodo (tengah), memastikan akan mengganti kerusakan bangunan akibat gempa NTB, di TMII, Jakarta, Senin (6/8). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Kendati mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan, Marcello mengaku tetap ingin kembali ke Indonesia. "Banyak pemandangan indah di sini dan orangnya ramah," ucap dia.

Ia berharap pemerintah Indonesia memberi pengetahuan yang cukup kepada warganya mengenai hal yang mesti dilakukan saat terjadi bencana, seperti gempa bumi.

Sebab, Marcello melihat warga di Lombok, tampak sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat bencana itu terjadi.

"Begitu pula staf hotel [kebingungan saat gempa]. Pemerintah Indonesia harus punya rencana yang baik untuk menghadapi peristiwa seperti itu," tandasnya.

Berdasarkan data sementara BNPB, korban meninggal dalam bencana itu mencapai 82 orang. Mayoritas akibat tertimpa bangunan yang runtuh. BNPB mengimbau warga tetap tenang namun senantiasa waspada usai gempa Lombok 7 SR. (arh/gil)