Analisis

Benturan Ideologi PKS dan PKB Jadi Kendala Poros Ketiga

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Rabu, 08/08/2018 09:28 WIB
Benturan Ideologi PKS dan PKB Jadi Kendala Poros Ketiga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menjadi kunci potensi terbentuknya poros ketiga. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi partai politik pendukung Prabowo Subianto merenggang. Alih-alih semakin mantap dengan nama cawapres atas kesepakatan bersama, PKS dan PAN bersikap seolah ada ketidakharmonisan dalam koalisi.

PAN tak setuju jika Prabowo menunjuk Salim Segaf Aljufri atau putra mahkota Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menjadi cawapres.

Ketua DPP PAN Yandri Susanto mengatakan partainya ingin ketua umum Zulkifli Hasan menjadi cawapres atau Ustaz Abdul Somad.


Sementara PKS memberi sinyal ketertarikan untuk membentuk poros ketiga. Isyarat itu disampaikan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, penggagas #2019GantiPresiden, yang dipertegas oleh pernyataan Presiden PKS Sohibul Iman.

PKS mematok 'harga mati' agar Prabowo menunjuk cawapres sesuai dengan rekomendasi hasil ijtima ulama. Cawapres yang dimaksud antara lain Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri atau Ustaz Abdul Somad.

Sohibul menyatakan poros ketiga dapat terbentuk atas kerja sama yang dibangun antara PKS, PAN, dan PKB. Sohibul mengklaim komunikasi dengan PKB berjalan dengan baik. Hanya saja, kata dia, saat ini PKB masih berada di poros pendukung Joko Widodo.

PKB, PAN, dan PKS dapat mengusung calon presiden dan wakil presiden karena memenuhi persyaratan. Perolehan suara tiga partai itu di Pemilu 2014 lebih dari ambang batas 20 persen. PKB memperoleh 11.298.957 atau 9,04 persen. PKS meraih 8.480.204 atau 6,79 persen sedankan PAN 9.481.621 atau 7,59 persen.

"Poros ketiga saya kira sangat mungkin terjadi, apalagi setelah Jokowi buat keputusan siapa cawapresnya. Bisa jadi ada yang kecewa di tubuh koalisi," ujar Sohibul di kantor DPP PKS, semalam (7/7).
Benturan Ideologi PKS dan PKB Jadi Kendala Poros KetigaPresiden PKS Sohibul Iman mematok 'harga mati' kepada Prabowo Subianto agar mengikuti rekomendasi ijtima ulama. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menganggap poros ketiga antara PKS, PKB, dan PAN sulit terbentuk. Alasannya, PKB dan PKS memiliki pandangan yang cenderung berbeda soal Islam.

"Problemnya, partai-partai Islam ini sering tidak ketemu dalam koalisi yang solid. Itu penyakit bawaan. Ada basis ideologi yang tidak bisa menyatukan," ujar Adi saat dihubungi semalam.

Adi menilai PKS memiliki paham Islam beraliran Wahabiah. Berbeda dengan PKB yang mengedepankan pentingnya Islam sesuai dengan ke-Indonesiaan ala Nahdlatul Ulama. Adi mengatakan elite hingga simpatisan akar rumput PKS-PKB kerap berseteru lantaran ada perbedaan paham soal Islam yang sifatnya prinsipil.

Terlebih, kata Adi, sempat ada pertentangan ketika petinggi NU Yahya Staquf menjadi pembicara di suatu acara di Israel. Adi mengatakan gontok-gontokan, meski sebatas verbal, terjadi cukup sengit antara PKB dan PKS yang selama ini kerap vokal menyuarakan kemerdekaan Palestina.

"Macam anjing dan kucing saja," ucap Adi.

Pilpres juga merupakan hajatan besar menentukan calon pemimpin. Apabila elite hingga simpatisan PKB dan PKS memiliki ideologi yang berbeda, kata Adi, maka sulit pula untuk menentukan calon presiden atas kesepakatan bersama.

"Capres-cawapres pilihan PKS, pasti sulit disetujui PKB. Itu sangat wajar sekali," ujar Adi.
Benturan Ideologi PKS dan PKB Jadi Kendala Poros KetigaKetua Umum PAN Zulkifli Hasan tercatat dua kali menemui Presiden Joko Widodo ketika koalisi oposisi berembuk mematangakan formasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Adi juga menilai PAN tidak mampu menjadi jembatan agar PKB dan PKS mau bekerja sama dalam konteks koalisi menghadapi pilpres. PAN, lanjut adi, sulit untuk menetralisir keruhnya pertentangan paham antara PKB dan PKS.

Dia berpendapat demikian lantaran menilai kader PAN tingkat bawah juga tidak harmonis dengan PKB khususnya NU. Kader PAN tingkat bawah, kata Adi, cenderung mendukung ketika PKS melontarkan slogan #2019GantiPresiden. Terutama mereka para pengikut setia Amien Rais.

Adi mengatakan bahwa sebagian besar kader PAN tingkat bawah adalah simpatisan Amien Rais. Meski Zulkifli Hasan yang kini menjabat sebagai ketua umum, Amien Rais tetap menjadi panutan utama. Amien Rais pun kerap melontarkan kritik pedas kepada Jokowi.

Hal itu jelas berbeda dengan posisi NU yang selama ini dekat dengan Jokowi. Sebut saja Ketum PBNU Said Aqil Siradj yang turut menjadi anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bentukan Jokowi. Jokowi pun mesra dengan Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin.

"Kalau secara alamiah untuk berkoalisi, sepertinya gelap gulita. PKS, PAN, PKB susah ketemu," ucap Adi. (gil)