Ijtimak Ulama II Akan Digelar Paling Lambat Pekan Depan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 20:23 WIB
Ijtimak Ulama II Akan Digelar Paling Lambat Pekan Depan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) Yusuf Martak (kiri) bersama Ketua Umum Parta Gerindra Prabowo Subianto (kedua kiri), Jakarta, 27 Juli 2018. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak menyatakan Ijtimak Ulama II untuk memutuskan dukungan pada capres/cawapres di Pilpres 2019 paling tidak pekan depan.

"Insyaallah awal minggu depan ya. Kami tidak akan berlama-lama karena ini sudah bukan hanya wilayah antara GNPF dengan koalisi partai. Tapi ini sudah menjadi hajat, dan hak martabat masyarakat banyak. Jadi kami harus benar-benar menggelar ijtimak ulama II yang menguntungkan semua pihak," ujar Yusuf saat dihubungi program Layar Pemilu Terpecaya: Spesial Pilpres di CNNIndonesia TV, Jumat (10/8).


Lebih lanjut, Yusuf mengatakan Sandiaga Uno yang dipilih Prabowo Subianto sebagai calon wakil presidennya dinilai bukan pilihan buruk. Pasalnya, sambung Yusuf, Sandiaga Uno pun sosok yang direkomendasikan ulama dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 bersama dengan Anies Baswedan.


Atas dasar itu, setelah ada keputusan dari ijtimak ulama II, dapat memberi kepastian kepada masyarakat apa yang direkomendasikan ulama dan tokoh nasional.

"Mana lebih bagus, kami putuskan atau ulama yang putuskan," tutur Yusuf.

Yusuf pun mengutarakan mekanisme keputusan dalam ijtimak ulama adalah hasil diskusi secara terbuka tanpa ada sistem pengambilan suara atau voting.

Di satu sisi, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) yang juga aktivis GNPF Ulama, Muhammad Al Khaththath, mengapresiasi atas dipilihnya Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden dari Presiden petahana RI Joko Widodo (Jokowi).

"Justru kami lebih semangat lagi. Karena ditambah ulama, berarti menjadi lawan yang lebih tangguh," ujar Al Khaththath dalam acara bincang-bincang yang sama.

Al Khaththath pun mengatakan pihaknya tetap mendukung Prabowo sebagai capres untuk Pilpres 2019 sesuai dengan rekomendasi ijtimak ulama I pada 27 Juli 2018. 

"Ini tinggal meyakinkan kepada umat saja, lebih mana yang meyakinkan lebih kuat kepada umat ganti atau tidak ganti," ujar Al Khaththath.

Ia juga memuji Sandiaga sebagai mitranya dalam Gerakan Salat Subuh Bersama saat menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Ijtimak Ulama II Akan Digelar Paling Lambat Pekan DepanTokoh oposisi dan para ulama berpose bersama saat proses Ijtima Ulama I, Jakarta, 27 Juli 2018. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Pada kesempatan yang sama Wakil Sekjen Gerindra Andre Rosiade meyakini kehadiran Ma'ruf Amin tak akan berpengaruh besar pada perolehan suara Jokowi.

"Saya rasa, kita tahu di berbagai lembaga survei, pemilih pak Jokowi itu memang basisnya terbesar di kalangan umat adalah NU. Jadi, masuknya KH Ma'ruf Amin tidak akan suara apapun kepada Pak Jokowi, karena ceruk suaranya di sana selama ini," tutur Andre.

Soal akan digelarnya Ijtimak Ulama II itu dikabarkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab. Pria yang menjadi Pembina GNPF Ulama itu mengabarkan soal ijtimak ulama II lewat akun twitter-nya, @RizieqSyihabFPI.

Rizieq menyerukan agar anggota FPI, GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni 212 dan segenap organisasi sayapnya untuk tenang menyikapai kondisi politik saat ini.

"Tetap istiqomah dalam satu komando ulama," kata Rizieq dalam pesan gambar yang dipostingnya, Jumat (10/8).

Ia meminta semua agar memberikan kesempatan yang lapang kepada para habaib dan ulama untuk melakukan ijtihad politik melalui ijtima ulama II. Menurutnya, ijtima ulama II itu untuk menjaga kemaslahatan agama, bangsa dan negara.

"Selama proses ijtihad politik berjalan, diserukan kepada semua pihak untuk tidak mengeluarkan pernyataan atau melakukan perbuatan apapun yang merendahkan harkat dan martabat pihak manapun," kata Rizieq soal rencana ijtimak untuk menentukan sikap jelang Pilpres 2019 itu.

(kid)