Sejarawan Universitas Indonesia Andi Achdian menyebut gesekan antara keduanya sering terjadi sejak masa perjuangan kemerdekaan tahun 1930-an. Perbedaan bermula dari perbedaan pandangan politik Bung Karno dan Bung Hatta.
"Strategi pergerakan Sukarno berfokus pada penggalangan massa, sedangkan Hatta elite terdidik yang mengutamakan pendidikan segelintir elite. Jadi sejak awal ada perbedaan visi menggalang kekuatan pergerakan," ucap dia, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo).
"Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat," ucap Hatta dalam buku itu.
Sukarno-Hatta dalam uang pecahan Rp100 ribu emisi 2016. (cnnindonesia/safirmakki) |
Nama Soekarno-Hatta pula yang tertulis dengan tinta emas sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.
Namun hubungan keduanya tak selalu mulus meski kemerdekaan sudah direngkuh.
Puncak konflik Sukarno dan Hatta terjadi pada 1956. Saat itu Sukarno menawarkan sistem politik baru, demokrasi terpimpin.
Ia menganggap sistem parlementer membuat negara tak stabil dan selalu berujung kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Hasilnya, semua keputusan akan ditumpukan ke pemimpin negara, Sukarno.
"Sejak saat itu, Hatta secara terang-terangan beroposisi terhadap Sukarno. Bukan lagi berbeda, tapi beroposisi dengan apa yang dia sebut kediktatoran dalam cara dan gaya Sukarno memerintah," ujar Andi.
Bahkan pada 20 Juli 1956 Hatta mengajukan surat pengunduran diri ke DPR. DPR baru membahas empat bulan setelahnya.
Kepada anak angkatnya, Des Alwi Abu Bakar, Hatta menyatakan dirinya hanya diminta mengurus koperasi selama jadi orang nomor dua di republik.
"Aduh, Des, Om cuma disuruh ngurus koperasi. Segala keputusan politik tidak dikonsultasikan dengan saya. Jadi Om berhenti saja jadi wakil presiden," kata Hatta kepada Des Alwi, dikutip dari buku 'Wapres: Pendamping atau Pesaing?'.
Menyimpan Hormat
Meski sering bertolak belakang dalam urusan politik, Sukarno dan Hatta tetap saling memiliki rasa hormat satu sama lain sebagai personal.
Setelah lengser dari RI 2, Hatta berkeliling Eropa untuk mengisi ceramah di kalangan mahasiswa. Satu waktu, ia ditanya soal kebijakan Sukarno beberapa waktu terakhir.
Sejumlah peziarah dari berbagai daerah di Indonesia memadati makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, 2015. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori) |
"Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya," ucap Hatta.
Begitu pun saat Sukarno jatuh sakit di akhir periode 1960-an. Hatta menggantikan Sukarno menjadi wali pernikahan Guntur Soekarnoputra.
Momen haru juga terjadi pada akhir hayat Sukarno. Pria kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
"Hatta, apakah kau di sini?" ucap Sukarno dari atas tempat tidur.
Sembari mengangguk perlahan, Hatta menjawab, "Ya aku di sini. Bagaimana keadaanmu, No?"
"Hoe gaat het met jou? [Bagaimana keadaanmu?]" Sukarno bertanya balik.
Rumah masa kecil Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. (Dok. Kebudayaanindonesia.net) |
Lima hari kemudian, Sukarno meninggal dunia. Hatta menyusul sepuluh tahun setelahnya, tepatnya pada 14 Maret 1980.
Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Sementara Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.
Meski sangat berjasa untuk pembentukan negara Indonesia, keduanya baru mendapat gelar pahlawan nasional pada 2012, 67 tahun setelah kemerdekaan.
(arh/sur)
Sukarno-Hatta dalam uang pecahan Rp100 ribu emisi 2016. (
Sejumlah peziarah dari berbagai daerah di Indonesia memadati makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, 2015. (
Rumah masa kecil Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. (