"Masa ada sebuah pertandingan kemudian orang saling puji. Kalau tinju, ya saling tinju biasa saja. Tapi ada aturan mainnya, ada rondenya. Ada yang boleh dipukul mana, bagian mana, ada yang tidak boleh bagian mana," kata Fadli di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (30/8).
Dalam konteks pilpres 2019, menurutnya, saat ini masyarakat dihadapkan pada dua kandidat yang akan ditetapkan September mendatang. Dengan demikian, saling mengkritik dalam berdemokrasi merupakan hal biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira biasa saja, kita ini 20 tahun berdemokrasi harusnya sudah makin dewasa. Jangan takut terhadap kritik," katanya.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini merasa heran dengan ketakutan rezim dengan gerakan #2019GantiPresiden. Menurutnya, jika ada yang tidak sejalan maka cukup membuat tagar baru dan tidak perlu menyudutkan gerakan tersebut.
Saat ini, dua kandidat bakal pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bakal bertarung pada pilpres 2019.
Kedua kandidat itu baru akan ditetapkan KPU sebagai pasangan calon pada 20 September mendatang. Namun, para pendukung masing-masing kandidat telah terlibat perdebatan di media sosial.
Saat merayakan kemanangan atlet pencak silat Asian Games 2018, Jokowi dan Prabowo saling berpelukan di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8).
Momen ini berawal saat Hanifan yang baru saja dikalungi medali emas naik ke tribun VIP tempat Jokowi dan Prabowo duduk menonton pertandingan.