BMKG Terapkan Sistem Baru, Diklaim Jitu Prediksi Kondisi Alam

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 22:07 WIB
BMKG Terapkan Sistem Baru, Diklaim Jitu Prediksi Kondisi Alam Ilustrasi BMKG. (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan sistem baru buat peringatan dini kondisi lingkungan dan bencana. Mereka meyakini sistem diterapkan lebih jitu sehingga bisa membantu masyarakat.

Tiga produk inovasi tersebut yakni Tsunami Early Warning System (INATEWS) 4.0 untuk upaya keselamatan dari ancaman gempa bumi dan tsunami, Geohotspot BMKG 4.0 untuk memantau peringatan dini kebakaran hutan dan lahan serta potensi sebaran kabut asap, dan info BMKG 4.0 atau layanan informasi cuaca dan iklim.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, khusus untuk produk inovasi peringatan dini tsunami memungkinkan BMKG menganalisis dan verifikasi data gempa bumi dan potensi tsunami kurang dari lima menit. Durasi ini lebih cepat dibandingkan dengan teknologi yang digunakan pasca tsunami Aceh pada 2004 silam.



"Dulu di Aceh baru bisa dideteksi setelah beberapa jam karena hanya ada 20 sensor. Sekarang sudah 170 sensor, sehingga tiga menit sudah bisa ketahuan," kata Dwikorita dalam sambutan peluncuran 'Produk Inovasi 4.0 BMKG' di Jakarta, Kamis (30/8).

Sementara untuk produk info BMKG 4.0, kata Dwikorita, diklaim dapat memberikan prediksi cuaca lebih presisi dengan tingkat akurasi mencapai 85 hingga 100 persen. Teknologi ini telah diterapkan selama pelaksanaan Asian Games 2018.

"Informasi yang dihasilkan digunakan untuk kelancaran event yang terpapar cuaca. BMKG juga memantau polutan untuk antisipasi kabut asap di sekitar venue Jakabaring Palembang," katanya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta perkembangan teknologi itu dapat membagikan informasi tentang alam kepada masyarakat dengan lebih cepat.

"Tetap penting upaya kita semua memberikan informasi yang cepat. Tiga menit itu sangat penting, memang masalahnya harus bagaimana menyiarkan dalam waktu tiga menit itu," ujar JK.


Menurut JK, BMKG dapat bekerja sama dengan media massa seperti televisi untuk menyiarkan informasi soal bencana. Hanya saja kendala yang dihadapi adalah apabila bencana terjadi pada malam hari lantaran minim orang yang masih menyaksikan siaran televisi.

Oleh karena itu, kata dia, salah satu yang dapat dilakukan adalah pemasangan sirine bencana pada Base Transceiver Station (BTS) telekomunikasi yang ada di desa-desa.

"Otomatis apabila ada gerakan-gerakan seperti itu (gempa) masyarakat tahu dari sirine yang berbunyi. Ini sangat penting untuk mengurangi efek seperti itu," katanya.

Selain prediksi soal bencana alam, kata JK, prediksi cuaca atau iklim yang akurat saat ini juga sangat dibutuhkan. Ia membandingkan dengan sejumlah warga di negara empat musim yang memiliki kebiasaan untuk mengecek cuaca terlebih dulu jika ingin beraktivitas di luar rumah.


"Di Eropa atau di AS contohnya, orang tidak akan keluar rumah sebelum membaca cuaca apa hari ini. Apakah bawa payung atau tidak. Pada waktunya nanti kita juga akan begitu, kapan bawa payung dan kapan tidak," ucap JK.

Ia pun mengapresiasi upaya BMKG yang membuat teknologi peringatan dini tentang potensi bencana alam pada masyarakat. JK berharap teknologi itu tak hanya dapat memprediksi cuaca maupun potensi tsunami, namun juga dapat memberi peringatan dini untuk bencana lainnya seperti gunung meletus.

"Pada generasi muda yang menciptakan inovasi ini tentu kita hargai, karena perkiraan cuaca sangat penting untuk kehidupan. Bukan hanya kehidupan sehari-hari tapi juga menyangkut ekonomi, keselamatan, dan tentu peringatan agar bencana yang terjadi dapat diperkirakan," tutur JK. (ayp/ayp)