Wara (46), eks warga Desa Cipaku, Sumedang, mengaku mesti pindah ke Sumedang Kota usai kediamannya terdampak pembangunan Waduk Jatigede.
"Dulu rumah saya 'gedong', pakai teras [halaman] yang ditembok, ada WC-nya juga. Pokoknya bagus, sekarang mah saya pakai bilik, boro-boro wc, mandinya di tempat orang, ramai-ramai," kata dia, saat ditemui CNNIndonesia.com di lokasi eks desa CIpaku, Sumedang, Jumat (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya begini, kalau pakai gas kan mahal. Pakai tungku saja di rumah," kata dia.
Warga menjala ikan saat Waduk Jatigede yang mengering, Jumat, 31 Agustus. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Ia juga mengaku tak pernah membayangkan keluarganya akan hidup seperti ini.
"Kalau mau dibilang sombong, saya dulu termasuk kaya, lumayan lah enggak pernah kekurangan. Sekarang, istri saja harus saya kirim ke Malaysia," katanya.
"Nelayan kalau airnya enggak ada juga kan susah, jadi ya ibarat makan buah simalakama. Kami terombang-ambing tidak jelas. Kata pemerintah kami bisa jadi nelayan, faktanya, ya airnya juga sering kering, susah," kata dia.
"Ibaratnya, dulu dijanjikan bisa jadi nelayan, bisa sukses menangkap ikan di bekas rumah sendiri, faktanya air sering surut ikan pun jarang, kami ya tidak jelas begini nasibnya," kata Wara.
Tata suryadi (49), warga Sumedang, mengumpulkan kayu bakar dari pohon yang mati di Waduk Jatigede yang mengering, Jumat, 31 Agustus. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Di tempat yang sama, Tata Suryadi (49) warga Dusun Ancol, Sumedang, menyebut warga desa sebelumnya memiliki mata pencaharian tetap sebagai petani. Ibaratnya, kata dia, warga tak pernah membeli beras karena hidup di lumbung.
"Warga di sini dulu itu kerja bertani, terus kalau perempuannya kebanyakan berdagang," kata dia.
Dulunya, kata Tata, warga di Cipaku terbilang makmur dan tak kenal istilah miskin; dikelilingi area persawahan dan tanah yang subur. Bahkan, Cipaku tak memiliki rumah yang tak 'gedong' (mewah).
Kini, lanjut Tata, warga sering turun ke bekas desa yang sudah terendam saat waduk mengering untuk mencari nafkah. Mulai dari mencari besi tua, kayu, hingga menanam padi.
"Ya pada balik lagi pas tahu bekas Desa mereka airnya surut malah kering begini, mereka banyak yg ngambil kayu, batu bata, atau besi tua begini kayak saya," ujar Tata.
Bekas bangunan SD di Desa Cipaku di dasar Waduk Jatigede yang kini mengering. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Sejak relokasi demi pembangunan waduk, Tata menyebut banyak warga yang mencoba peruntungan sebagai nelayan.
"Tapi ya hasilnya tidak bagus juga, karena begitu kan [nelayan] mereka enggak punya skill, susah nyari ikan, apalagi airnya sudah kering begini. Makin susah lah," tandas dia.
Waduk Jatigede diresmikan pada 2015. Pembangunannya menelan empat kecamatan.
Lihat juga:Sumedang Gelar Festival Pesona Jatigede 2017 |
Di samping itu, ada Kecamatan Darmaraja yang terdiri dari Desa Cibogo, Desa Cipaku, Desa Jatibungur, Desa Karangpakuan, Desa Leuwihideung, Desa Pakualam, Desa Sukamenak, Desa Sukaratu, Desa Tarunajaya, dan Desa Cikeusi.
(arh/sur)
Warga menjala ikan saat Waduk Jatigede yang mengering, Jumat, 31 Agustus. (
Tata suryadi (49), warga Sumedang, mengumpulkan kayu bakar dari pohon yang mati di Waduk Jatigede yang mengering, Jumat, 31 Agustus. (
Bekas bangunan SD di Desa Cipaku di dasar Waduk Jatigede yang kini mengering. (CNN Indonesia/Safir Makki)