Dia mengatakan, jika ada yang hendak mendeklarasikan gerakan tersebut maka akan berhadapan dengan aparat.
"Jika ada organisasi massa yang hendak melakukan gerakan #2019gantipresiden# maka akan berhadapan dengan aparat keamanan," kata Sisilia di Kupang, Selasa (4/9), dikutip Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai itu, Sisilia mengatakan akan mencari informasi lebih dalam mengenai rencana deklarasi tersebut.
"Kami juga akan segera berkoordinasi dengan pihak Universitas Muhammadiyah Kupang untuk menggali informasi lebih dalam mengenai rencana kegiatan tersebut," katanya.
"Gerakan yang saya bangun adalah lebih ke pendidikan politik. Supaya masyarakat jangan salah tafsir tentang gerakan #2019GantiPresiden," kata Hajenang kepada Antara, Senin (3/9).
Dia mengatakan, kegiatan ini bukan makar atau anti UUD 1945 dan Pancasila, tetapi lebih pada pendidikan politik. Namun, para netizen menolak dengan keras kegiatan tersebut apapun alasannya.
"Tidak ada kampanye di jalanan lalu teriak-teriak dan mencela atau memfitnah tokoh-tokoh penting di republik ini tanpa dasar argumen yang jelas," katanya.
Hajenang menambahkan gerakan yang akan dilakukan ini tidak berada di bawah 'underbow' siapa-siapa, tetapi lebih kepada keinginan demokrasi.
Kegiatan ini juga bukan untuk kampanye mengubah sistem presidensil di Indonesia, tidak juga menyinggung siapa-siapa, agama, ras, atau golongan tertentu, katanya. (osc/sur)