Sebar Hoaks Soal Munir, Situs Pencatut Kabareskrim Diselidiki

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 04:39 WIB
Sebar Hoaks Soal Munir, Situs Pencatut Kabareskrim Diselidiki Kabareskrim Polri Komjen Arief Sulistyanto, 2015. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/Asf/pd/15)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengusut kasus penyebaran hoaks alias berita bohong yang mengaitkan nama mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono dengan kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib lewat situs ariefsulistyanto.com.

Dalam situs tersebut, misalnya, tertulis bahwa Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto akan menangkap dan telah menetapkan Hendropriyono sebagai tersangka karena ikut memilih jenis racun yang digunakan oleh Pollycarpus Budihari Prijanto untuk membunuh Munir.

"Itu situs abal-abal yang mengatasnamakan dan mencatut nama saya. Bersama ini saya sampaikan semua yang ada di dalam situs itu adalah palsu. Sedang kita selidiki," cetus Arief dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (12/9).


Berdasarkan penelusuran, situs itu dibuat pada Senin (10/11) dan mempunyai penyimpanan data (server) di Denmark.

Di dalam situs itu, dapat ditemukan sebanyak 10 artikel yang seluruhnya mengaitkan nama Arief, Hendropriyono, Munir, dan mantan terpidana pembunuhan Munir, Pollycarpus.

Mantan Kepala BIN Hendropriyono.Mantan Kepala BIN Hendropriyono. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Namun, situs itu sudah tak bisa lagi diakses lagi saat ini karena sudah diblokir oleh pemerintah dengan Internet Positif.

Diketahui, Munir diracun dalam penerbangan menuju Kota Amsterdam, Belanda, 7 September 2004.

Terkait kasus pembunuhan Munir, Arief sendiri telah menyatakan penyidik tidak pernah menutup kasus tersebut.

Menurutnya, penyidikan kasus pembunuhan Munir akan dilakukan kembali oleh penyidik bila menemukan bukti baru atau novum seputar kasus itu.

"Kalau ditanya kapan dibuka, saya tegaskan kami tidak pernah menutup kasus ini [pembunuhan Munir]. Kalau ada bukti atau fakta hukum baru, makan akan dimulai lagi," kata Arief kepada wartawan di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Jumat (6/9).

Dia menerangkan, penyidik telah menerbitkan sebanyak empat berkas perkara untuk empat orang tersangka dalam penyidikan kasus pembunuhan Munir, sejak 2004.

Aksi 'Kamisan' yang menuntut penyelesaian kasus Munir, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/9).Aksi 'Kamisan' yang menuntut penyelesaian kasus Munir, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/9). (CNN Indonesia/Setyo Aji Harjanto)
Arief mengatakan seluruh tersangka dalam kasus ini telah menjalani hukuman, termasuk Pollycarpus Budihari Prijanto, yang sudah dinyatakan bebas murni sejak pekan lalu.

(arh/sur)