Risma Diprotes soal Rencana Nama Jalan Siliwangi dan Pasundan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 18:24 WIB
Risma Diprotes soal Rencana Nama Jalan Siliwangi dan Pasundan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diminta untuk tak mengganti nama jalan Dinoyo dan Gunungsari jadi Siliwangi dan Pasundan. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Surabaya, CNN Indonesia -- Wacana perubahan dua nama jalan di Surabaya, Jawa Timur, menjadi nama Siliwangi dan Pasundan mengundang polemik di sana.

Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri Indonesia (GM FKPPI) Jawa Timur berharap Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk tak mengganti nama Jalan Gunungsari jadi Jalan Siliwangi, dan Jalan Dinoyo jadi Jalan Pasundan.

Mereka menilai rencana perubahan dua nama jalan itu sebagai wacana yang ahistoris. Daripada mengubah nama kedua jalan tersebut, GM FKPPI Jatim menilai lebih baik nama Pasundan dan Siliwangi disematkan pada jalan yang baru atau sedang dibuat.


"Kan ada banyak ruas jalan baru di Surabaya. Pakai nama baru di ruas jalan itu. Jangan jalan yang sudah ada, diganti namanya," ujar Sekretaris GM FKPPI Jatim Didik Prasetiyono kepada wartawan di Surabaya, Jatim, Selasa (18/9).


Menurut Didik banyak memori kolektif warga Jatim, khususnya Surabaya, yang terikat dengan nama jalan termasuk di daerah di sana.

"Setiap orang menyebut Dinoyo dan Gunungsari, pasti ada memori indah yang terpanggil. Secara sosiologis ini penting untuk mengikat publik menjadi himpunan yang saling peduli. Itulah ciri-ciri arek Suroboyo, yaitu punya solidaritas. Memori itu akan dicabut sepihak oleh penguasa, tentu kita tolak," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo mewacanakan adanya harmonisasi Sunda-Jawa dengan melakukan perubahan nama jalan. Di Surabaya, akan ada nama Jalan Pasundan dan Siliwangi. Sementara di Bandung akan ada nama Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk. Kedua nama jalan di Surabaya yang akan diganti adalah Jalan Gunungsari dan Jalan Dinoyo.

Menanggapi itu, Ketua GM FKPPI Jatim Agoes Soerjanto mengatakan pihaknya menyesali munculnya usulan perubahan nama tersebut. Itu, sambungnya, bisa disebutkan mengingkari nilai-nilai perjuangan arek Surabaya.

"Juga menunjukkan tak adanya iktikad baik dari pengambil kebijakan untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya mengingat sejarah perjuangan bangsa," ujar Agoes.

Agoes pun mendesak pembatalan rencana perubahan nama jalan Dinoyo dan Gunungsari. Pembatalan itu, sambungnya, demi menghormati jasa pahlawan di Surabaya.

"Ini demi penghormatan terhadap sejarah yang diwarnai perjuangan para pahlawan. Nama jalan tersebut menjadi salah satu tetenger dari perjuangan para pahlawan," imbuhnya.

Agoes mengatakan, berdasarkan penuturan ahli dan pelaku sejarah, Jalan Gunungsari adalah bagian yang tak mungkin dipisahkan dari Front Bukit Gunung Sari.

Front itu adalah basis pertahanan terakhir dan tempat gerilya arek-arek Suroboyo yang tergabung di Badan Keamanan Rakyat/Pelajar--cikal-bakal Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP)--untuk melawan tentara sekutu pada pertempuran 28 November 1945.

Gunungsari, kata Agoes, menjadi benteng pertahanan terakhir karena lokasinya yang ketika itu masih dipenuhi bukit. Agoes menerangkan saat itu, sangat banyak gerilyawan rakyat dan tentara pejuang yang wafat di medan laga. Dan, untuk mengenang jasa mereka, dibangunlah Monumen Kancah Yudha Mas TRIP di Gunungsari yang diresmikan Pangdam Brawijaya Mayjend TNI Witarmin pada 7 Februari 1981.

"Dengan nilai sejarah yang sangat tinggi itu, sangat disayangkan jika kemudian akan dihilangkan dari memori publik," ujar Agoes.

(dik/kid)