Kepala Bidang Hukum dan Komunikasi Bandara Syamsudin Noor Aditya Putra mengatakan, penerbangan yang terganggu adalah penebangan untuk kedatangan pesawat pagi hari.
"Ada tiga kedatangan pesawat yang tidak bisa mendarat karena terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap menyelimuti landasan pacu sehingga pendaratan dialihkan ke bandara lain," kata Noor di Banjarbaru, Selasa (19/9) dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, Lion Air JT 310 dari Surabaya yang harusnya mendarat pukul 07.55 Wita, baru bisa mendarat pukul 08.54 Wita serta Wings Air IW 1363 dari Kotabaru baru mendarat pukul 09.34 Wita.
Asap menyelimuti Banjarmasin akibat karhutla, 2015. (REUTERS/Darren Whiteside) |
"Petugas di darat menyampaikan kondisi dan jarak pandang sepanjang landasan pacu tetapi pendaratan sepenuhnya keputusan pilot pesawat sehingga bisa menunggu kabarnya hilang atau dialihkan," ungkapnya.
Menurut dia, jarak pandang yang tercatat Selasa pagi pukul 06.00 Wita berkisar 400 meter sedangkan jarak pandang di landasan pacu yang dibutuhkan untuk pendaratan diatas 400 meter minimal 600 meter.
"Lima pesawat yang seharusnya terbang mulai pukul 06.00 Wita terpaksa ditunda meski tidak terlalu lama dari jadwal yakni dua pesawat tujuan Surabaya dan satu pesawat ke Balikpapan, Bandung dan Jakarta," katanya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel pada 14 September, luas lahan karhutla di Kalsel mencapai 2.005 hektare. Luas lahan yang terbakar itu merupakan akumulasi sejak 1 Januari hingga 14 September.
Lihat juga:Karhutla di Palangka Raya Kian Meluas |
"Banjarbaru paling luas lahan yang terbakar dan seluruhnya berada di lahan gambut dan tersebar di beberapa titik sehingga kami masih fokus melakukan pemadaman," kata Kepala BPBD Kalsel Wahyudin.
(arh/sur)
Asap menyelimuti Banjarmasin akibat karhutla, 2015. (