Rusaknya buoy mencuat setelah gempa dan tsunami yang melululantahkan sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9). DPR pun mempertanyakan keberadaan buoy di yang tak aktif di seluruh perairan Indonesia.
"Buat kami itu jadi lebih menarik ketika kemarin early warning system dari tsunami itu enggak jalan. Itu menarik, [buoy] itu enggak jalan kenapa?" kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung KPK, Jakarta, Senin (1/10) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah blasting-nya juga enggak ada, kemudian responsnya juga lambat. Jadi kalau KPK bilang sih negara mungkin tak merasa dirugikan tapi dia tidak efisien," ujarnya.
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, di Jakarta, 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Dana Bantuan
Lebih lanjut, Saut tak mempermasalahkan pemberian dana dari sejumlah daerah kepada korban gempa dan tsunami di Sulteng. Dia hanya mengingatkan bahwa pencatatan peruntukan dana tersebut harus jelas.
Lihat juga:DPR Berencana Naikkan Anggaran untuk BMKG |
Saut membuka kemungkinan KPK bakal membuka kantor di Palu, seperti saat gempa dan tsunami terjadi Aceh 2004 silam. Sebab, dana bantuan, khususnya yang dari luar negeri dengan jumlah besar, harus dipantau penggunaannya agar tak terjadi penyimpangan.
"Kenapa dulu waktu kejadian Aceh KPK ada di sana berkantor di sana? Ya bisa jadi nanti kita berkantor juga di Palu. Kalau angkanya cukup besar dan tidak efisien, nanti kan negara luar melihatnya seperti apa gitu lho," ujarnya.
Warga korban gempa mengambil berbagai keperluan logistik sebuauh toko, di Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
"Sejauh ini KPK belum membentuk tim, tapi sudah ada diskusi diskusi tentang itu supaya seperti di Aceh," tutup Saut.
(fra/arh)
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, di Jakarta, 2016. (
Warga korban gempa mengambil berbagai keperluan logistik sebuauh toko, di Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (