Mendikbud Kesulitan Mendata Sekolah Terdampak Gempa Palu

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 18:58 WIB
Mendikbud Kesulitan Mendata Sekolah Terdampak Gempa Palu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengaku belum semua stafnya di UPT Palu bisa dihubungi pasca gempa. Menurut dia hal itu menjadi kendala dalam mendata sekolah-sekolah terdampak gempa dan tsunami di Kabupaten Donggala dan Kota Palu.

"Kita belum punya data lengkap karena UPT kita di sana juga masih lumpuh ini. Malah stafnya juga masih dicari-cari, belum lengkap," ujar Muhadjir saat ditemui di Gedung A, Kemendikbud, Jakarta Pusat, Selasa (2/10).

Muhadjir menilai dampak bencana kali ini akan lebih sulit diatasi dibanding gempa yang menimpa Lombok.



"Sampai hari ini saya belum dapat update. Tapi sepertinya perlu lebih kerja keras daripada di NTB," ujarnya.

Di NTB, Kemendikbud bersama kementerian lainnya telah menyiapkan upaya rehabilitasi. Kemendikbud menyiapkan sekolah-sekolah darurat buat anak-anak korban bencana.

Sebanyak 600-an gedung sekolah rusak, 3.051 ruang kelas di ratusan sekolah itu mengalami kerusakan, sementara 1.460 di antaranya rusak berat.


Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho juga menyatakan gempa yang menimpa Palu dan Donggala lebih berat ketimbang Lombok. Hal itu yang menjadi salah satu alasan Presiden Joko Widodo membuka bantuan dari internasional.

"Jadi pertama gempa lebih besar yang terjadi Palu, Sulawesi Tengah. Kemudian juga terjadi tsunami, jumlah korban lebih besar, kemudian juga kerugian dan kerusakan, tingkat kesulitannya juga lebih besar. Kemudian juga menyampaikan ingin membantu ya kita terima," kata pria yang akrab disapa Topo itu.


Berdasarkan data pada Senin (1/10), korban tewas akibat bencana Palu dan Donggala mencapai 844 orang. Sementara korban luka mencapai 632 orang. Pengungsi yang sudah tercatat sebanyak 48 ribu orang.

Belajar Di Luar Kelas

Muhadjir Effendi juga mengimbau kegiatan belajar mengajar di Sumba Timur tak dilakukan di dalam kelas. Permintaan itu disampaikan pasca gempa dengan magnitudo 6,3 dan 6 terjadi pada Selasa (2/9) pagi.

"Diusahakan tidak menggunakan kelas ya. Belajar di luar kelas," kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan dia sudah mendapatkan laporan bahwa siswa dipulangkan lebih awal karena ada kerusakan bangunan. Dia pun berjanji akan segera menindaklanjuti hal itu.


Dua gempa tadi pagi di Sumba Timur dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, ada sejumlah bangunan sekolah mengalami retak.

Gempa menyebabkan kepanikan tak hanya siswa tetapi juga warga. Alhasil, siswa-siswi sekolah berhamburan keluar rumah. (kst/ayp)