"Dengan pertimbangan masih banyak masalah yang harus diselesaikan di lapangan maka penanganan tanggap daruat diperpanjang 14 hari ke depan hingga 13 sd 26 oktober 2018," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers, Kamis (11/10).
"Kita imbau untuk tidak melakukan pencarian korban pada warga karena kondisi jenazah sudah menimbulkan penyakit. Sudah rusak," ucap Sutopo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam masa perpanjangan tanggap darurat akan dilakukan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, perbaikan saran dan prasarana, pembersihan puing bangunan dan lainnya.
Hingga Kamis (11/10), pukul 13.00 Wita, jumlah korban meninggal mencapai 2.073 orang.
Seluruh korban telah dimakamkan. Sebanyak 994 korban dimakamkan di pemakaman massal dan 1.079 di pemakaman keluarga.
"Palu paling banyak korban karena di sepanjang teluk Palu dihantam tsunami ketinggian hingga 11 meter," ujar Sutopo.
Selain korban meninggal, BNBP mengumumkan 10.679 orang terluka dan 680 dilaporkan keluarganya belum ditemukan. Sementara itu, banyak korban yang diperkirakan masih tertimbun.
Lihat juga:BMKG: Ada 295 Sesar Aktif di Indonesia |
Di sisi lain, akibat gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu sebanyak 67.310 unit rumah rusak, yang tersebar di Kota Palu sebanyak 65.733 unit. Di Kabupaten Sigi 879 unit, dan di Kabupaten Donggala 680 unit. Masyarakat yang mengungsi terdata sekitar 87 ribu orang. (kst/dea)