Pesan Jokowi ke Santri: Silakan Beda Pilihan, Saring Hoaks

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 00:56 WIB
Pesan Jokowi ke Santri: Silakan Beda Pilihan, Saring Hoaks Presiden Jokowi Widodo memperingatkan para santri soal hoaks. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Bandung, CNN Indonesia -- Di depan ribuan santri, Presiden Joko Widodo memperingatkan soal bahaya hoaks dan fitnah di tahun politik. Baginya, tak masalah berbeda pilihan pada Pemilu 2019 selama tidak saling fitnah.

Hal itu dikatakannya dalam malam puncak peringatan Hari Santri 2018 di Lapangan Gasibu, Bandung, Minggu (21/10).

"Silahkan berbeda pilihan, itu tidak apa-apa. Namanya juga pesta demokrasi," kata Jokowi dalam pidato sambutannya, di hadapan puluhan ribu santri.

Ia mengingatkan pilihan politik itu jangan sampai membuat masyarakat saling menfitnah. Sebab, Islam tak pernah memperbolehkan fitnah dan kebohongan.

"Tidak pernah dalam ajaran Islam diperbolehkan melakukan fitnah, mencela, menjelekkan. Fitnah saling mencela, menjelekkan muncul menjelang pemilihan bupati, pemilihan walikota, pemilihan gubernur dan pemilihan presiden," ujar Jokowi.

Ketimbang mempercayai hoaks, ia, yang saat itu mengenakan sarung dipadu dengan baju koko, peci, dan jas hitam, menyebut hal yang terpenting adalah menjaga kesatuan negara.


"Siapa yang menjaga? Salah satunya para santri," kata dia.

"Saya titip, jangan mudah percaya pada hoaks berita yang ada di media sosial. Kalau sudah menjelang tahun politik, banyak sekali berita bohong, fitnah di medsos. Tolong disaring," ia menambahkan.

Puncak Peringatan Hari Santri 2018 ini dihadiri pula oleh sejumlah pejabat, di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, dan Politikus PPP Romahurmuzy.

Peringatan Hari Santri Nasional pertama kali dilakukan tahun 2015 lalu, setelah presiden Joko Widodo menandatangani Keppres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober.

Santriversary

Malam puncak Hari Santri 2018 dengan tajuk Santriversary itu juga santri dan santriwati muda dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka mulai mendatangi Lapangan Gasibu sejak sore hari.

Sebelum malam puncak Hari Santri yang dihadiri Presiden, rangkaian acara dimulai dengan, salah satunya, Festival Pendidikan Al-Quran di Gedung Muhamad Toha, Sabilulungan, Bandung.

Peringatan Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi, Jakarta, 22 Oktober 2015.Peringatan Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi, Jakarta, 22 Oktober 2015. (Adhi Wicaksono)
Pada sore hari, kirab Hari Santri Nusantara tingkat Provinsi Jawa Barat digelar di Lapangan Gasibu.

Fauzan (24), santri asal Bandung, mengatakan acara puncak ini merupakan pengalaman pertamanya menghadiri acara peringatan Hari Santri.

"Acaranya meriah. Insyaallah, banyak berkahnya. Di sini banyak kiainya jadi banyak ilmu juga yang didapat," kata Fauzan.

Ia pun berharap peringatan Hari Santri ini membawa perubahan terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Saya berharap semoga Indonesia lebih damai dan sejuk," harapnya.

Santriwati Hemi Hanifah (20) yang pernah nyantri Pondok Pesantren Sukahideung, Tasikmalaya, juga merasakan momen hari santri ini cukup istimewa. Sebab, acara ini menjadi momen untuk bersama santri lain.

"Saya merasa bangga dan bersyukur banget bisa datang di hari spesial alumni santri. Acara ini mengingatkan kembali masa-masa di pesantren," ungkapnya.




(hyg/arh)