"Saya tegaskan, penetapan Hari Santri bukan intervensi pemerintah terhadap pesantren. Tetapi merupakan bentuk penghargaan," ujar Said dalam keterangan tertulis, Senin (22/10).
Said menuturkan santri dan kaum pesantren berjasa dalam membentuk karakter bangsa lewat keluhuran akhlak dan kemandirian. Hari Santri, kata dia, juga sebagai bentuk pengakuan negara atas jasa ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seruan Hasyim di hadapan konsul-konsul NU seluruh Jawa-Madura itu, kata dia, merupakan cikal bakal peristiwa perlawanan rakyat Surabaya pada 10 November.
"Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan NKRI sudah final sebagai konsensus nasional," ujarnya.
Selepas reformasi, Said mengklaim santri sebagai bandul kekuatan moderat. Dalam peran itu santri disebut Said mengawal sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khitah NKRI sebagai negara bangsa yang mengakui seluruh warganya memiliki hak dan kewajiban yang sama.
"Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi, narkoba, LGBT, dan hoaks yang mengancam masa depan bangsa," ujar Said. (panji/wis)