ANALISIS

Polemik Logistik Kampanye Prabowo-Sandiaga

CNN Indonesia | Kamis, 25/10/2018 06:30 WIB
Polemik Logistik Kampanye Prabowo-Sandiaga Pasangan bakal calon presiden-calon wakil Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masalah kesulitan modal kampanye di Pilpres 2019 kembali mencuat. Persoalan itu mendera pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka mengklaim kesulitan menghimpun dana untuk mempromosikan diri bersaing dengan lawan mereka, Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Kami akui sajalah, tidak usah terlalu [ditutupi] Prabowo-Sandi duafa," ujar Sandiaga di GOR Bulungan, Jakarta, 23 Oktober 2018.

Pernyataan Sandiaga itu sebagai respon analisis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Hasil penelitian menyatakan duet sulit mengalahkan capres petahana Joko Widodo (Jokowi) yang bepasangan dengan Ma'ruf Amin karena masalah keuangan.


Uang, kata Denny JA, merupakan salah satu hal penting untuk mengalahkan petahana. Dua hal lain yang penting yakni momentum dan media.


Terkait dengan klaim duafa logistik kampanye, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menduga hal memang benar-benar terjadi. Sebab, menurut perkiraan dia, modal terbesar pasangan itu hanya bersumber dari Sandiaga.

Ujang menilai Prabowo dan parpol koalisi, seperti Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat memiliki keterbatasan logistik. Apalagi setiap partai politik juga harus mengerahkan segala upaya supaya mereka lolos dari ambang batas pemilihan (electoral threshold) legislatif.

"Dugaan saya, betul ya, karena mungkin logistik ada, cuma memang itu hanya disediakan dari Pak Sandi. Jadi, pundi-pundi logistik itu terbatas dimiliki dan dipunyai oleh Pak Sandi," ujar Ujang kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/10).

Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Sandiaga tercatat memiliki harta sekitar Rp5 triliun. Harta Sandiaga mencakup tanah hingga surat berharga.

Atas dasar mengakui kekurangan modal itulah, Ujang menyatakan tidak heran pasangan Prabowo-Sandiaga gencar membuat program sumbangan. Sebab, hanya dengan cara itu mereka masih bisa bersaing dengan Jokowi-Ma'ruf.


Ujang pun menilai ada faktor lain yang membuat pasangan Prabowo-Sandiaga kesulitan menghimpun dana yakni daya tarik Jokowi sebagai calon petahana. Menurut pengajar di Universitas Al Azhar Indonesia itu, sebab Jokowi masih berkuasa, akibatnya sumber-sumber keuangan terutama para pengusaha kemungkinan besar bakal bertumpu pada petahana untuk mengamankan kepentingan bisnis mereka.

Dalam teori politik, kata Ujang, pemilik modal akan selalu berdampingan dengan penguasa. Hubungan itu semata-mata untuk mencari keuntungan oleh kedua belah pihak.

"Jadi misalkan dari pengusaha-pengusaha besar, sukses, mohon maaf dalam tanda petik termasuk pengusaha yang hitam pun pasti akan lari ke incumbent (petahana)," ujarnya.

Sebagai jalan keluar, Ujang menyarankan Prabowo-Sandiaga dan pendukungnya terus kreatif melakukan manuver selama kampanye. Hanya dengan cara itu, ia menilai tingkat keterpilihan (elektabilitas) pasangan itu bisa meningkat perlahan-lahan.

Selain itu, Ujang juga mengingatkan kekompakan koalisi partai politik pengusung yang seharusnya dimaksimalkan Prabowo-Sandiaga supaya dapat menutupi kekurangan modal itu.

"Kenaikan elektabilitas itu bukan hanya bergantung pada logistik meskipun logistik jadi penentu juga. Yang penting tidak diam dan terus bergerak," ujar Ujang.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno saat proses pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun juga yakin duet Prabowo-Sandiaga kekurangan ide dan modal untuk mengalahkan Jokowi-Maruf. Ia menilai hal tersebut merupakan fakta.

"Saya kira klaim tersebut ada benarnya jika dibanding petahana. Prabowo-Sandi financial capitalnya lebih kecil dibanding Jokowi-Ma'ruf," ujar Ubedilah kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ubedilah, minimnya sumber keuangan Prabowo-Sandiaga bisa dilihat dari siapa saja pemilik modal yang mendukung pasangan itu.

"Pendukung petahana adalah mayoritas partai-partai besar dan di belakang partai besar tentu memiliki financial capital besar. Ini rasio yang mudah dibaca," ujarnya.

Meski demikian, Ubedillah meragukan uang menjadi faktor paling kuat supaya bisa unggul dalam Pilpres. Menurut dia, faktor sosial, kinerja mesin politik, hingga promosi juga punya andil besar.

"Oleh karenanya pasangan Prabowo-Sandi jika modal finansialnya kalah maka mereka harus memperkuat modal sosial, modal mesin politik dan modal marketing politiknya," ujar Ubedilah.

(panji/ayp)