Status Penanganan Bencana Sulteng Masuk Masa Transisi Darurat

CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 20:24 WIB
Status Penanganan Bencana Sulteng Masuk Masa Transisi Darurat BNPB memutuskan masa tanggap darurat penanganan gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah telah berakhir. (Dok. Puspen TNI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan masa tanggap darurat penanganan gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah telah berakhir pada Jumat (26/10).

Selanjutnya, kata Sutopo, ditetapkan status transisi darurat ke pemulihan selama 60 hari, terhitung sejak 27 Oktober hingga 25 Desember 2018.

"Pertimbangannya, Gubernur menetapkan transisi darurat berdasarkan laporan dari sub-satgas infrastruktur bahwa pembersihan kota sudah mencapai 70 persen," ujarnya saat konferensi pers di Gedung Graha BNPB, Jakarta.



Sutopo mengatakan pemulihan sistem air minum diprediksi selesai pada Desember 2018. Sementara sejumlah jalan di beberapa daerah masih terputus karena rusak dan tertimbun longsor.

Selain itu, Pembangunan Hunian Sementara (Huntara) masih terus dilakukan dan diperkirakan selesai sekitar 2 bulan mendatang.

"Di bidang kesehatan, Tim Satgas Kesehatan mengerahkan 2.000 tenaga medis dan saat ini rumah sakit dan puskemas di sana dapat berfungsi dengan tenaga medik organik. Artinya dengan tenaga-tenaga medis yang ada di Sulteng. Namun, Kemenkes tetap akan melakukan pendampingan," kata dia.

Status Penanganan Bencana Sulteng Jadi Transisi DaruratKepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan kepada media terkait dengan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Sulteng. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Terkait kondisi masyarakat di sana, laporan dari Wali Kota Palu, Bupati Donggala dan Bupati Sigi menyatakan penanganan pascabencana cukup kompleks. Sementara Sutopo melaporkan kondisi masyarakat sudah kondusif.

"Setelah dua bulan mendatang maka akan diputuskan oleh gubernur apakah masuk fase rehabilitasi, rekonstruksi ataukah perpanjangan transisi darurat dengan memperhatikan masukan-masukan, juga berdasarkan apa yang terjadi di lapangan," katanya.

Terkait hal ini, saat ini BNPB juga masih menyiapkan dokumen rehabilitasi rekonstruksi.

Sampai hari ini, tercatat jumlah korban meninggal 2.081 orang, korban yang sudah dimakamkan 2.081 orang, korban luka 12.568 orang, pengungsi 214.925 orang, korban hilang 1.309 orang, sementara yang telah dievakuasi 21.321 orang.

Terkait total kerusakan dan kerugian, BNPB memaparkan Rp15,29 triliun, kerugian Rp2,02 triliun dan kerusakan Rp13,27 trilun. Dengan pembagian wilayah, Palu 50 persen sebesar Rp7,6 triliun, Sigi 32,1 persen sebesar Rp4,9 triliun, Donggala 13,8 persen sebesar 2,1 triliun, dan Parigi Moutong 4,1 persen Rp631 miliar.
(din/pmg)