"Saya kira strategi menjual hasil kerja atau promosi atau sosialisasikan prestasi pembangunan itu akan lebih efektif karena terasa dan nyata di tengah-tengah masyarakat," kata Karding.
"Terutama Sandi itu terlaku eksploitasi, padahal baru omongan, belum ada bukti," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kami fokus saja, enggak gubris enggak usah obral janji. Yang penting sekarang kan ada bukti. Pasar juga banyak yang sudah direvitalisasi," katanya.
Jokowi dan Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Karena apa, bicara soal ekonomi itu enggak cuma berkunjung ke pasar, blusukan itu hanya simbol. Karena yang penting itu apa yang nyata dan apa yang dilakukan, bukan cuma datang ke pasar saja," ujar dia.
"Mereka seolah tahu kelemahan masing-masing. Taruhlah Sandi dan Prabowo, dia tahu tak bisa menyerang Jokowi dari segi kepuasan pelayanan ASN, apa yang bisa? Ekonomi. Nah mereka gempur," kata Adi.
Sayangnya, kata Adi, gempuran itu tak juga digubris kubu Jokowi. Mereka justru malah asyik dengan dunia sendiri dan tentu paham bahwa sebagai petahana Jokowi memiliki banyak keuntungan.
"Jokowi punya apa yang bisa dipamerkan. Bukti-bukti pembangunan, saya rasa ini juga lah yang membuat dia percaya diri tanpa kampanye bisa dulang suara," katanya.
Dia mengatakan hal serupa memang pernah dilakukan Jokowi. Saat menjadi petahan pemilihan wali kota Solo, Adi menilai Jokowi bisa dibilang minim sekali kampanye. Dia malah sibuk menyelesaikan sisa pekerjaannya kala itu.
"Dia hanya bilang ya kalau mau pilih saya monggo ada buktinya, kalau engga mau ya engga apa-apa. Dan saat itu Jokowi menang telak," katanya.
Meski begitu, Adi menyebut kebiasaan blusukan rasanya masih tetap harus dilakukan Jokowi. Sebab hal itu memang kadung melekat di diri mantan Gubernur DKI ini.
"Karena takutnya kalau dia tak blusukan lagi, nanti pemilihnya bisa pindah haluan," kata Adi.
(tst/dea)
Jokowi dan Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (CNN Indonesia/Hesti Rika)