RS Polri: Mayoritas Jasad Korban Lion Air Sulit Diperiksa

CNN Indonesia | Selasa, 30/10/2018 02:57 WIB
RS Polri: Mayoritas Jasad Korban Lion Air Sulit Diperiksa Evakuasi temuan korban pesawat Lion Air JT-610. (RESMI MALAU / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Rumah Sakit Polri Kombes Pol Musyafak menyatakan bahwa sebagian besar jasad korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 sulit diidentifikasi.

Dia mengatakan hal tersebut merujuk dari isi 24 kantung jenazah yang telah tiba di RS Polri dari lokasi kejadian.

"Korban yang sudah masuk di postmortem relatif memang sulit dilihat atau diperiksa," ucap Musyafak saat konferensi pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta, Senin malam (29/10).


Musyafak mengatakan kesulitan yang ditemui yakni karena sebagian besar kondisi jasad yang tiba di RS Polri sudah tidak lagi utuh. Namun, dia tidak merinci bagian tubuh apa saja yang paling banyak mengisi kantung jenazah.


Dia pun tidak mengatakan ada jasad yang utuh dari seluruh kantung jenazah yang dicek oleh tim postmortem RS Polri.

"Kondisi di dalam kantung jenazah sebagian besar memang tidak utuh. Saya sampaikan bukan tidak berharap banyak, tetapi [berharap] kesabaran untuk menunggu proses identifikasi ini," kata Musyafak.

"Jadi kesulitan-kesulitan identifikasi tergantung dari utuh dan tidak utuhnya korban," lanjutnya.

Musyafak mengatakan sejauh ini RS Polri telah menerima 24 kantung jenazah dari lokasi kejadian per Senin (29/10) pukul 23.30 WIB. Semuanya tengah diperiksa oleh tim postmortem.

"Ini bisa jadi satu kantung lebih dari satu korban. Kita tak bisa menyampaikan jumlah korban," kata Musyafak.


Sementara itu, dari 189 korban, sebanyak 132 sudah memberikan data identitas antemortem. Namun, hanya sebagian dari mereka yang diambil sampel DNA karena tidak semua mengajak saudara kandung korban seperti orang tua atau anak.

Proses Identifikasi

Musyafak menjelaskan bahwa langkah pertama dalam melakukan pemeriksaan jasad korban yakni dengan mengecek sidik jari.

Apabila cocok dengan data yang diberikan keluarga korban, baik melalui ijazah atau KTP, maka akan dinyatakan teridentifikasi.

"Prinsip primer adalah sidik jari. Kalau sudah cocok, itu berarti sudah teridentifikasi," ucap Musyafak.

Langkah kedua, jika sidik jari sulit diperiksa atau dicocokkan, tim forensik RS Polri akan mengecek gigi korban. Hal itu akan dilakukan oleh ahli ontotologi forensik RS Polri berdasarkan rekaman medis kondisi gigi korban yang diberikan keluarga.

Sejumlah barang yang ditemukan di lokasi dugaan pesawat Lion Air JT-610 jatuh.Sejumlah barang yang ditemukan di lokasi dugaan pesawat Lion Air JT-610 jatuh. (ANTARA FOTO/HO-Pertamina)

Apabila tidak memiliki rekaman medis gigi, tim RS Polri akan mengecek benda-benda milik korban. Nantinya akan dicari tahu kepada keluarga korban.

Tanda-tanda medis juga akan dicek. Tanda media yang dimaksud yakni berupa bekas operasi atau tato milik korban.

Demi memudahkan proses dengan langkah itu, kata Musyafak, keluarga diharapkan memberi keterangan rinci perihal gambar dan lokasi tato milik korban.

"Atau bahkan barangkali pernah pasang ring [pada jantung], kami akan membuka itu kalau kondisinya utuh," ucap Musyafak.

Langkah terakhir, jika sejumlah cara itu masih belum bisa mengidentifikasi jasad korban, maka akan dilakukan pencocokan DNA korban dengan keluarga.


Mengenai proses ini, korban baru bisa diidentifikasi paling cepat 4-5 hari, lebih lama dibandingkan langkah-langkah yang sebelumnya diuraikan.

"Kesulitannya adalah apabila korban ini tidak utuh dan bahkan serpihan. Beberapa potong. Ini memang harus diambil sampel DNA untuk diperiksa. Jadi bisa saja hanya teridentifikasi sebagian, karena memang yang dibawa ke sini," kata Musyafak.

"Proses kesulitannya tergantung kondisi korban itu sendiri. Termasuk kelengkapan data antemortem yang kita ambil tadi," lanjutnya. (bmw/end)