Moeldoko Jawab Tudingan Kampanye Terselubung di Suramadu

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 16:17 WIB
Moeldoko Jawab Tudingan Kampanye Terselubung di Suramadu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko membantah ada kampanye terselubung saat Jokowi menggratiskan Jembatan Suramadu pekan lalu. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan Presiden Joko Widodo tak bisa hanya diam di Istana dalam masa kampanye Pilpres 2019. Meski menjadi petahana, kata Moeldoko, Jokowi masih harus melaksanakan tugasnya sebagai Presiden.

"Terus sekarang Presiden disuruh mendekam terus di Istana? Tidak mungkin dong. Ada pekerjaan yang harus dilaksanakan entah di Sabtu, Minggu, atau hari biasa posisi beliau sebagai Presiden tetap berjalan," kata Moeldoko ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu di Surabaya.

Hal ini disampaikan Moeldoko untuk menyikapi tudingan Jokowi berkampanye dan berusaha menarik perhatian masyarakat melalui pembebasan biaya Jembatan Tol Suramadu.


Jokowi resmi membebaskan biaya Jembatan Tol Suramadu pada Sabtu lalu. Dalam acara itu beberapa kiai, ulama, serta yang hadir mendampingi Jokowi turut mengacungkan jari telunjuknya. Pengacungan jari identik dengan nomor urut 01 bagi Jokowi dan Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Tak hanya ulama, sejumlah masyarakat yang melintasi Jembatan Suramadu dan melihat Jokowi juga meneriakkan dua periode serta mengacungkan telunjuknya.

Karena hal ini, Jokowi dilaporkan Forum Advokat Rantau (FARA) ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Anggota FARA Rubby Cahyady berpendapat Jokowi tidak perlu datang ke Madura mengumumkan penggratisan tarif tol Jembatan Suramadu. Pengumuman dinilai cukup lewat menteri bersangkutan.

Moeldoko menyatakan Jokowi selaku Presiden dan calon presiden tidak pernah meminta atau menyuruh masyarakat melakukan hal itu. Euforia seperti itu dinilai selalu terlihat ketika Presiden berkunjung ke daerah.

"Kadang-kadang saya juga bingung melihat langsung bagaimana suasana psikologi masyarakat enggak seperti yang kita bayangkan di Jakarta. Sering diomongin orang yang negatif padahal di daerah itu luar biasa," tuturnya sambil tertawa.

Menurut Moeldoko aksi masyarakat di Suramadu itu tanpa disuruh. Aksi itu bersifat spontan. Dia berkata masyarakat saat ini sudah tidak bisa suruh karena semakin mandiri.

Lebih lanjut Moeldoko mengatakan bahwa Jokowi tahu betul batasan antara sebagai Presiden dan calon Presiden. Contohnya seperti ketika berada di Semarang beberapa waktu lalu. Jokowi tak menggunakan mobil dinas saat menghadiri acara TKN.

Sikap serupa dilakukan beberapa bulan lalu sebelum menunjuk Erick Thohir sebagai Ketua TKN. Beberapa jam sebelum itu, Jokowi menggunakan mobil dinas RI 1 saat mengunjungi rumah Sinta Nuriyah.

Namun, rangkaian Kepresidenan langsung berubah dalam sekejap karena Jokowi akan menghadiri acara TKN di Rumah Cemara sebagai calon presiden. Mobil Mercedes Kepresidenan berubah menjadi mobil Toyota Innova yang dipakai Jokowi sejak mendaftarkan diri ke KPU.

"Ini memang menurut saya cara melihatnya harus diluruskan. Semua muncul tiba-tiba dan enggak bisa dihindari. Mungkin yg di sini seandainya diingatkan, begitu ke sana terus gimana lagi? Mau sepanjang jalan diingatkan?" kata Moeldoko. (chri/wis)