Keluarga Pilot Lion Air JT-610 Sambangi RS Polri

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 18:35 WIB
Keluarga Bhavje Suneja datang ke RS Polri untuk menyerahkan data antemortem. Mereka didampingi seorang staf Lion Air. Keluarga Pilot pesawat Lion Air JT-610 Bhavye Suneja menyambangi RS Polri. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keluarga Bhavye Suneja, Pilot pesawat Lion Air JT-610, menyambangi Rumah Sakit Polri di Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu (31/10) sekitar Pukul 16.30 WIB. Mereka datang didampingi oleh seseorang yang mengaku staf dari Lion Air, Willy.

Setibanya di RS Polri, mereka bergegas masuk ke dalam gedung instalasi pelayanan Disaster Victim Identification (DVI) yang menjadi Posko antemortem korban Kecelakaan pesawat Lion Air JT-610. Mereka berada di dalam gedung tersebut selama sekitar satu jam.

Setelah itu, satu per satu dari mereka bergegas pergi meninggalkan gedung menuju area parkir. Namun salah seorang yang berambut putih, mengenakan kaca mata dan berpakaian biru keluar belakangan bersama Willy.


Kepada awak media, Willy mengaku bahwa pria yang didampinginya adalah ayah dari Bhavye Suneja. Ia datang langsung dari India untuk memberikan keterangan dan data-data terkait anaknya kepada DVI RS Polri.

""Datang langsung dari India. Kepolisian dan Basarnas meminta bukti bukti dan tes DNA," ujar Willy di RS Polri.
Willy mengatakan dirinya tidak bisa memberikan keterangan lebih jauh. Ia mengaku hanya ditugaskan untuk mendampingi keluarga Bhavje.

"Saya enggak bisa kasih keterangan, nanti sama humas," ujarnya.

Bhavye Suneja merupakan Pilot yang menerbangkan pesawat Lion Air JT-610.  Pesawat tersebut terbang dari Bandara Soekarno Hatta, Banten pukul 06.20 WIB untuk menuju Pangkal Pinang. Namun pada pukul 06.33 WIB, pesawat dilaporkan hilang kontak.  Pesawat membawa total 189 orang yang terdiri atas 178 penumpang dewasa, satu anak, dan dua bayi, serta delapan awak kabin.

Pihak Lion Air mengklaim Bhavye sudah berpengalaman dengan total penerbangan sebanyak 6.000 jam.

Sebelum kejadian Bhavje disebut sempat menghubungi Air Traffic Control (ATC) sekitar pukul 06.20 WIB.

Wakil Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko mengatakan, pilot Lion Air itu melaporkan permasalahan pada flight control saat terbang di ketinggian 1.700 kaki.

Selain masalah pada flight control, pilot juga meminta menaikkan pesawat ke ketinggian 5.000 kaki. Menara kontrol mengizinkan pesawat jenis Boeing 737-300 MAX 8 dengan nomor register PK-LQP itu naik ke 5.000 ft. Beberapa menit kemudian, pesawat hilang dari radar dan tak bisa dikontak kembali.

Kepala otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Bagus Sunjoyo juga mengatakan pilot Lion Air JT-610 meminta kembali ke landasan pascalepas landas.

Namun demikian, Bagus belum bisa memberikan keterangan secara spesifik mengenai alasan pilot meminta kembali.
(fnr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK