Politik Tempe ala Sandi dan Suara Sumbang dari Parung Panjang

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 08:39 WIB
Politik Tempe ala Sandi dan Suara Sumbang dari Parung Panjang Sejumlah pedagang membantah Sandiaga Uno soal mahalnya harga-harga di Parung Panjang, Bogor. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jalan becek, bau sampah menyengat, dan alunan musik dangdut bercampur aduk dalam kesemrawutan Pasar Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ibu-ibu larut dalam aktivitas jual beli di Kamis (1/11) pagi.

Pasar itu terletak tak jauh dari tempat yang didatangi oleh calon wakil presiden nomor 02 Sandiaga Uno sehari sebelumnya, Rabu (31/10). Sandi menghadiri peringatan Sumpah Pemuda di Lapangan Utama Parung Panjang.

Di lapangan itu, Sandi bertemu Sofia dan Bunga yang mengeluhkan mahalnya harga kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk tarif listrik.



Sandi mengatakan ibu-ibu itu menyebut harga kebutuhan pokok di Parung Panjang berbanding terbalik 180 derajat dengan temuan Presiden Joko Widodo di Pasar Surya Kencana, Kota Bogor.

CNNIndonesia.com pun menemui beberapa pedagang di Pasar Parung Panjang. Mereka menyatakan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk tempe, masih stabil.

Nur Asih, salah satu pedagang tempe yang sudah berjualan selama tujuh tahun di pasar tersebut, saat ini menjual tempe dengan harga Rp3.000 untuk ukuran normal dan cukup tebal. Sedangkan tempe berukuran dua kali tempe normal harganya Rp6.000.

"Memangnya tempe harga Rp3.000 kemahalan, ya? Minimal memang segitu," kata Nur.


Ia mengatakan harga tempe tidak pernah naik belakangan ini. Kalaupun harga kacang kedelai naik, Nur menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tempe. Para pedagang enggan menaikkan harga tempe.

"Kalau kacangnya mahal, ya kita kecilin [tempenya]. Gitu aja," ujarnya.

Beda Suara Pedagang dan Sandi soal Harga di Pasar BogorSuasana pasar dan pedagang di pasar kawasan Parung Panjang, Bogor. (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari)

Siasat penjual memperkecil ukuran tempe sejak jauh hari ditangkap oleh Sandi sebagai fenomena tidak lazim. Temuan Sandi atas tempe setipis kartu ATM sempat digambarkan sebagai representasi keprihatinan atas perekonomian yang dirundung pelemahan nilai rupiah.

Isu soal 'per-tempe-an' ini kemudian direproduksi sebagai pintu masuk pendekatan Sandi menerjemahkan misi kampanyenya, yakni soal lapangan pekerjaan, stabilitas harga pangan, dan pertumbuhan ekonomi.

Sejak itu, Sandi melabeli tempe-tempe lainnya di pasar berbeda dengan beragam istilah, mulai dari tempe saset hingga tempe sebesar ponsel jadul.

Isu ekonomi memang jadi amunisi kubu Prabowo-Sandi mengkritisi Jokowi sebagai petahana sekaligus pesaing di Pilpres 2019. Tim ekonomi mereka diisi oleh mantan menteri seperti Fuad Bawazier dan Rizal Ramli. Kwik Kian Gie bahkan diklaim sebagai penasehat tim ekonomi badan pemenangan.

Tim ini dinilai memberi pengaruh opini publik. Paling anyar, Rizal Ramli harus berurusan dengan polisi karena dilaporkan oleh Surya Paloh atas dugaan pencemaran nama baik. Gara-garanya, Rizal menganggap kebijakan impor pangan merugikan rakyat, sementara Jokowi tak berani menegur Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita karena ada Surya Paloh di belakangnya.


Masalah harga pangan ini pula yang dikaitkan oleh Sandi sebagai persoalan di masyarakat. Seperti pengakuan Sofia dan Bunga yang kata Sandi mengeluhkan harga kebutuhan pokok melambung, tak seperti yang diklaim Jokowi.

"Di Kabupaten Bogor, masyarakat di sana, Ibu Sofia dan Ibu Bunga menyatakan berbanding terbalik 180 derajat. Mahal, Pak. Ditambah sekarang mahal biaya listrik, biaya biaya kehidupan sehari-hari mereka," kata Sandi di Gedung Serbaguna Kompleks DPR, Kalibata, Jakarta, Rabu (31/10).

Namun klaim Sandi ini disangkal oleh Andri, pedagang lainnya di Pasar Parung Panjang. Dia merasa para pedagang tak terganggu dengan harga listrik dan biaya lainnya.

Andri pun mengatakan harga tempe di Parung Panjang terbilang paling murah. Siasat memperkecil ukuran tempe menurutnya sudah lumrah dilakukan jika harga kedelai naik.

"Diperkecil. Misalkan dikurangi jadi 4 ons. [Harga] Stabil. Beda sama sayur mayur. Sayur mayur kan kadang naik, kadang turun. Kalau tempe, ya standar," katanya.

Mukti, pedagang lainnya, juga menyatakan tidak ada kenaikan harga sembako di Parung Panjang.

"Tidak ada, harga mah baguslah. Gula tidak naik, minyak tidak naik. Garam sering turun naik, sekarang tidak naik," kata Mukti.


Sementara Nadia, warga yang biasa berbelanja di pasar tersebut juga mengatakan harga tempe dan sembako masih terjangkau.

"Stabil terus. Yang Rp3.000-an kalau beli ya, itu tetap. Sembako kayaknya sama saja ya, minyak, beras," ujarnya.

Sandi sendiri tak berkunjung ke Pasar Parung Panjang pada hari dia mendengar keluhan Sofia dan Bunga. Sandi saat itu menyempatkan diri ke UMKM milik Evi dan suaminya, Iman Setiadi, di Jalan Kebasiran KM 2, Parung Panjang. Lokasinya pun tak jauh dari pasar.

Saat ditemui CNNIndonesia.com di lokasi, Iman mengaku menyambut positif kunjungan Sandi. Namun dia tak mengenal Bunga dan Sofia yang disebut Sandi mengeluhkan mahalnya harga-harga kebutuhan hidup.

"Istri saya [Evi] juga tidak tahu [Sofia dan Bunga]," kata Iman.

Beda Suara Pedagang dan Sandi soal Harga di Pasar BogorPresiden Joko Widodo mengatakan kritik soal kenaikan harga tak sesuai kenyataan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Kritik 'per-tempe-an' Sandi telah direspons oleh Jokowi dengan aksi blusukannya ke Pasar Surya Kencana, Selasa (30/10) malam. Jokowi menyindir sejumlah pihak yang kerap menyebut harga sembako di pasar selalu naik. Menurutnya, hal itu tak sesuai kondisi di lapangan serta laporan yang ia terima.

Ia mengatakan inflasi yang biasanya berkisar di angka 9 atau 8 persen, sekarang berada di bawah 3,5 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan harga masih terkendali.

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, harga tempe di Pasar Surya Kencana berkisar Rp4.000 hingga Rp12.000 dengan berbagai macam ukuran.

"Rata-rata yang jual tempe di sini paling murah Rp4 ribu, memang standarnya seperti itu, yang paling gede saya jualnya Rp12 ribu," ujar Asep, pedagang tempe di Pasar Suya Kencana, Kamis (1/11).

Klaim Sandi soal keluhan emak-emak dan aksi blusukan Jokowi atas isu pangan tak terlepas dari kepentingan masing-masing kandidat merengkuh simpati rakyat jelang Pilpres 2019.

Bagaimanapun, isu mahalnya harga kebutuhan pokok di pasar rupanya tak begitu berpengaruh pada pilihan politik Nadia.

"Tidak ada. Ikut aja deh. Kalau [harga] bisa turun ya syukur, kalau tidak, ya harapannya lebih baik. Kita kan maunya gitu. Rakyat juga kan maunya gitu," ujar Nadia di Pasar Parung Panjang.

Ruslan, pembeli di Pasar Surya Kencana, juga menganggap pernyataan Sandi soal naiknya harga tak berarti ujug-ujug berpengaruh membulatkan pilihannya di Pilpres 2019.

"Siapa saja, mau Jokowi atau siapa yang paling penting benar. Saling bisa mengayomi rakyat, bikin rakyat senang, itu yang didukung. Kalau yang bikin susah mah enggak usah didukung," katanya.



(ani/gil)