Insiden Bendera Tauhid Disebut Alihkan Fokus Pilpres 2019

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 05:55 WIB
Insiden Bendera Tauhid Disebut Alihkan Fokus Pilpres 2019 Ilustrasi bendera tauhid. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dilakukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Garut disebut telah mengubah fokus dalam tahapan Pemilu 2019.

"Itu akan merugikan kita sebagai warga bangsa yang sudah sulit menapaki tahapan pemilu yang tidak mudah ini, tapi justru konsentrasi fokus dialihkan ke sesuatu yang sama sekali tidak signifikan," kata Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro usai acara 'Menjaga Keutuhan Bangunan Kebangsaan Kita', di Mercure Hotel, Kamis (1/11). .

Kejadian itu menurut Siti juga menunjukkan kurang dewasanya masyarakat dalam menjaga harmoni. Dia mempertanyakan alasan bendera itu dibakar.


Bila pun tidak suka, lanjutnya, seseorang bisa melipat saja bendera itu kemudian dimasukkan dalam tas. Hal itu tak akan berbuntut panjang berupa kesalahpahaman di antara masyarakat.

"Ini sebetulnya berkaitan dengan kedewasaan kita dalam merespons hal-hal yang mengandung apakah ada sensitivitas, sifatnya nanti mendorong konflik di antara komunitas dan masyarakat. Lalu dipikirkan matang-matang sebelum melakukan sesuatu yang berdampak luas," tutur dia.

Padahal, menurut Siti, kedewasaan ini begitu penting di Indonesia yang hidup dengan latar belakang penduduk yang majemuk. Apalagi, Indonesia akan menghadapi musim pemilu tahun depan.

Untuk menangkal perpecahan, Siti mengatakan bahwa Indonesia butuh transfer ilmu dari pemuka-pemuka agamanya. Khusus untuk umat Islam, dia berharap para dai terus menyalurkan akidah agar umatnya tak emosional dan sarkasme.

"[Pemimpi bangsa harus] memberikan tauladan konkret bukan hanya kosa kata saja, bukan umbul-umbul, MoU agar dilihat oleh media. Tapi adalah day to day keteladanan untuk dicontoh oleh masyarakat. Kita kering tauladan," kata dia.

Tanpa keteladanan ini, Siti menilai riak-riak perpecahan akan terus mengancam Indonesia. Bangsa ini, kata dia, juga harus senantiasa mengingat betul jati dirinya.

"Dari dulu kita adalah rakyat yang punya keadaban, punya nilai nilai fondasi dan ini yang harus kita depankan," katanya.

(kst/arh)