"Itu akan merugikan kita sebagai warga bangsa yang sudah sulit menapaki tahapan pemilu yang tidak mudah ini, tapi justru konsentrasi fokus dialihkan ke sesuatu yang sama sekali tidak signifikan," kata Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro usai acara 'Menjaga Keutuhan Bangunan Kebangsaan Kita', di Mercure Hotel, Kamis (1/11). .
Kejadian itu menurut Siti juga menunjukkan kurang dewasanya masyarakat dalam menjaga harmoni. Dia mempertanyakan alasan bendera itu dibakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sebetulnya berkaitan dengan kedewasaan kita dalam merespons hal-hal yang mengandung apakah ada sensitivitas, sifatnya nanti mendorong konflik di antara komunitas dan masyarakat. Lalu dipikirkan matang-matang sebelum melakukan sesuatu yang berdampak luas," tutur dia.
"[Pemimpi bangsa harus] memberikan tauladan konkret bukan hanya kosa kata saja, bukan umbul-umbul, MoU agar dilihat oleh media. Tapi adalah day to day keteladanan untuk dicontoh oleh masyarakat. Kita kering tauladan," kata dia.
Tanpa keteladanan ini, Siti menilai riak-riak perpecahan akan terus mengancam Indonesia. Bangsa ini, kata dia, juga harus senantiasa mengingat betul jati dirinya.
(kst/arh)